Showing posts with label vacation. Show all posts
Showing posts with label vacation. Show all posts

Sunday, June 28, 2020

This is Africa 1

Jacaranda di sudut Kota Harare
Jacaranda di sudut kota Harare

Pada bulan November 2018, saya harus berpindah tempat tugas ke sebuah negara di Benua Afrika. Pekerjaan saya sekarang mengharuskan saya dan istri untuk pindah sementara dari Indonesia ke benua itu selama kurang lebih 2 tahun yang kemudian jika semua berjalan sesuai dengan rencana kami akan langsung pindah lagi ke Laos selama 2 tahun lagi dan baru kembali ke Indonesia. Ada banyak cerita dan alasan bagaimana akhirnya saya bisa terpilih atau lebih tepatnya memilih untuk tinggal di Benua Afrika tapi, apapun alasan dan ceritanya, bagi saya dan istri, ke Benua Hitam ini adalah another chapter of adventure walaupun kami sama sekali mengendarai sepeda motor seperti yang sering kami lakukan di Indonesia tapi, to see different culture, people, language and try to live with them adalah salah satu anugerah dan pemberian dari Tuhan yang sungguh rruuuarrrr biaasaa….Alhamdulillah… Tulisan ini saya buat kurang lebih 3 bulan sebelum saya harus pindah lagi ke Negara lainnya untuk tinggal dan bekerja salama 2 tahun jika semua berjalan sesuai rencana.

Negara itu dinamakan Zimbabwe yang berada di Benua Afrika bagian selatan, tepat berbatasan langsung dengan Afrika Selatan di sebelah selatannya., Negara Zambia di sebelah utaranya, Mozambique di sebelah timur dan di sebelah baratnya ada Negara Botswana. Nama nama Negara yang mungkin cukup kurang didengan oleh kita semua. Banyak hal yang dapat diceritakan di Negara ini mulai dari politik, ekonomi, sosial budaya dan masih banyak hal lainnya, namun saya tidak akan membahas hal-hal itu karena saya akan membahas mengenai tempat-tempat mana saja yang pernah saya kunjungi untuk saya bagi kepada anda.

Mungkin banyak dari anda yang sering dengar nama Zimbabwe namun ya hanya mendengar saja, seperti saya dulu. Dulu sewaktu sekolah nama Zimbabwe sering digunakan sebagai semacam ejekan untuk mengtakan bahwa sesuatu atau seseorang itu berasal dari tempat yang jauh atau kuno. Ya, itu juga sebagai salah satu alasan mengapa saya memilih untuk tinggal disini.

Harare, adalah ibukota Negara ini dimana saya tinggal, saya tinggal di apartemen berlantai 6 di daerah agak pinggir kota yang berada tepat di depan rumah dinas presiden. Hampir seluruh bangunan yang ada di kota ini merupakan bangunan yang sudah cukup lama karena dibangun sewaktu masa penjajahan Inggris, termasuk apartemen yang saya tinggali. Hampir tidak ada bangunan baru yang dibangun di negara ini karena berbagai macam alasan. Namun bangunan yang telah berumur ini menurut saya member kesan tersendiri mengenai kota ini, jadi terlihat lebih authentic menurut saya.

Victoria Falls, adalah air terjun terbesar di dunia yang kebetulan berada di antara 2 negara yaitu Zimbabwe dan Zambia, jadi masing-masing Negara membuka tempat wisata untuk dapat melihat air terjun ini. Saya belum pernah melihat Victoria Falls dari sisi Zambia, namun menurut saya dari sisi Zimbabwe sudah sangat sangat terlihat kemegahannya. Dari sisi Zimbabwe terdapat lebih dari 10 viewpoints yang disediakan, anda bisa memilih viewpoints mana yang akan dijadikan latar belakang foto anda. Saya sudah 3 kali mengunjungi air terjun ini dan tidak ada kata bosan karena ya memang pemandangannya yang luar biasa indah, perjalanan menuju kesini dari Harare jika dilakukan dengan perjalanan darat juga sangat menarik dan ini merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi paling tidak sekali seumur hidup jika anda memang menggemari keindahan alam.

Jacaranda di Harare

Victoria Falls terletak agak jauh dari ibukota Negara, diperlukan waktu tempuh lebih dari 12 jam dengan kendaraan pribadi dengan jarak dari ibukota kurang lebih 800an Km. Tiga kali saya kesana, semuanya dengan kendaraan pribadi, dua kali dengan menginap dulu di tengah perjalanan, yaitu di kota Bulawayo, dan satu kali kami mencoba langsung menuju kesana tanpa menginap dan bermalam di jalan.

Suasana di Victoria Falls hampir seperti Bali di Indonesia, karena tempatnya yang sangat touristy, banyak tempat makan, penginapan yang disediakan khusus untuk para wisatawan menurut saya sangat berbeda dengan suasana  Zimbabwe pada umumnya di luar Victoria Falls yang nampak tidak semegah dan segemerlap Vicfalls.

Sebenarnya ada cara lain untuk pergi ke Vicfalls, yaitu dengan menumpang pesawat terbang dari Harare, namun kami tidak memilih opsi itu karena selain menghemat biaya kami lebih senang melakukan perjalanan darat karena kami bisa melihat berbagai pemandangan yang ada, pemandangan kota-kota kecil sepanjang jalan menuju Bulawayo, atau pedesaan dan ladang-ladang milik warga serta rumah adat mereka yang masih banyak tersebar di pinggir jalan.

Masih banyak tempat-tempat indah lainnya yang kami telah kunjungi di Negara ini, yang akan saya tulis di post selanjutnya.

Pelangi di Vicfalls

Tuesday, November 29, 2016

Kawasaki D-Tracker

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan sepeda motor ini karena memang kapasitas mesin yang terbilang kecil, hanya 150cc (sebelumnya saya menggunakan Bajaj Pulsar 220) dan karena badan yang cukup ramping, berbanding terbalik dengan badan saya., terlebih lagi, harganya yang cukup fantastis, jika dibandingkan dengan harga baru Bajaj Pulsar saya dulu. 

Setelah sekian lama mencari-cari sepeda motor pengganti si Benji (Bajaj Pulsar saya dulu), browsing sana-sini, mampir ke dealer berbagai merek, saya mulai melirik motor ini karena ada salah satu informasi yang saya dapatkan yang menyatakan bahwa D-Tracker versi tahun 2016 akan mempunyai dimensi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan D-Tracker keluaran tahun-tahun sebelumnya. lingkar roda  juga bertambah besar dari ukuran 14" menjadi 17". Mesin juga mengalami sedikit, ya sedikiit perubahan dari versi lama untuk meningkatkan sedikit tenaga yang memang hanya sedikit. Hal lain yang membuat saya semakin ingin memiliki adalah karena motor ini menggunakan basis yang sama dengan  KLX yang membuat motor ini dapat digunakan di semua medan ditambah suspensi depan yang sudah Upside Down. Saya kembali teringat perjalanan saya di Gunung Salak dulu, dengan medan yang cukup parah dan membayangkan bagaimana jika saya kembali kesana dengan menggunakan motor ini. Hm...suatu hari saya akan kembali....


Satu yang menjadi kekurangan dari motor ini menurut saya, meskipun sudah bertambah panjang, namun karena secara alami, motor ini merupakan motor untuk 1 penumpang saja (tanpa pembonceng), jok terlalu pendek sehingga ketika istri saya membonceng akan terasa agak lebih sempit dibandingkan dengan si Benji, jok yang terlalu pendek ini juga semakin terasa pendek setelah saya memasang box belakang Shad 33 diatas braket custom. namuuuunnn, seperti pepatah mengatakan, nobody`s perfect, begitu pula dengan sepeda motor, pasti ada kekurangan dan kelebihannya, ya kan? ya kan? Buktinya, telah banyak tempat yang saya dan istri saya telah datangi dengan si Suki (nama D-Tracker 150 saya). Saya sementara ini berdomisili di Yogyakarta, dan bersama si Suki, saya dan istri sudah sampai ke Bandung+Jakarta, Bali via Jalur selatan Jatim, Tawangmangu dan masih banyak tempat lainnya.


Tidak banyak ubahan yang telah saya lakukan, terutama di bagian mesin, semuanya masih standard, hanya beberapa aksesoris tambahan yang berguna saja yang sudah terpasang. Hal pertama yang saya lakukan setelah motor tiba di tangan adalah memasang braket custom untuk dudukan box belakang dan box samping/panniers. Untuk pemakaian harian dalam kota, box ini selalu terpasang dengan cantiknya di belakang si Suki. Karena motor jenis ini tidak mempunyai bagasi, mempunyai ruang penyimpanan tahan cuaca yang dapat dikunci adalah hal yang penting karena dapat untuk menyimpan jas hujan, sarung tangan, masker dkk. Untuk perjalanan jauh, yang saya baru tahu belakangan, jika mengganti box Shad 33 dengan duffle bag anti air dari 7Gear akan jauh lebih nayaman karena selain daya tampung yang lebih besar dibandingkan dengan box saya, tas ini membuat pembonceng dapat duduk agak lebih lega karena tas dapat ditempatkan sedikit ke belakang. Untuk dudukan box samping sementara ini hanya saya gunakan untuk meletakkan side bag merek Rangaroo sebagai ruang penyimpanan tambahan. Selain itu saya juga memiliki tankbag seri Mondo dari 7Gear.


Ubahan lainnya yang saya lakukan adalah menambah busa pada jok karena jok bawaan terasa sangat tipis dan cepat membuat bokong panas. Menambah busa memang sedikit mengurangi rasa panas dan pegal, namun saya rasa masih kurang nyaman, terutama karena jok yang tidak begitu lebar. Mungkin nanti, sebelum saya melakukan perjalanan jauh lainnya saya akan mencoba mencari spesialis jok motor untuk memperlebar penampang jok agar lebih nyaman.

Kawasaki D-Tracker 150 versi baru ini dijual dengan 2 varian, varian standar dan varian Special Edition (SE). tidak ada perbedaan spesifikasi diantara kedua jenis ini, yang membedakan hanyalah aksesoris yang menempel, seperti adanya handguard, engine guard, frame guard dan setang model fatbar pada varian SE. Saya sebenarnya ingin membeli varian SE berwarna kuning hitam,namun, karena waktu inden yang cukup lama, plus motor lama sudah laku, saya membeli varian biasa dengan warna putih oranye. Karena tetap ingin memiliki varian SE, lalu saya membeli sendiri semua aksesoris varian SE dan memasangnya pada si Suki, jadilah SE versi KW.

Untuk perjalanan jauh, terutama jika ingin melewati rute baru yang belum pernah dilewati, saya membeli GPS waterproof sehingga untuk memastikan daya listrik GPS selalu penuh, saya memasang motorcycle USB charger. Selain untuk GPS, charger ini juga bisa digunakan untuk mengisi daya HP. Tahun 2012 saya membeli GPS waterproof 3,5" dari sebuah toko online, GPS ini tidak bermerek dan menggunakan peta gratis dari www.navigasi.net. Saya cukup nyaman menggunakan GPS ini pada awalnya, dan hampir tidak ada masalah sama sekali, namun karena sering memutakhirkan peta dan ukuran file peta versi baru menjadi semakin besar, GPS semakin lama semakin lemot atau bahkan gagal mencari rute sehingga saya tidak dapat menggunakan peta versi terbaru. Karena alasan tersebut, saya mencoba mencari informasi tentang GPS waterproof yang murah dan reliable. Pilihan saya akhirnya jatuh kepada Garmin Nuvi 200 yang memang dapat digunakan untuk mobil dan sepeda motor. Garmin sebenarnya juga menyediakan beberapa GPS handheld basic dengan harga yang lumayan terjangkau seperti etrex 20 maupun etrex 30, namun ukuran layarnya terlalu kecil.

Terakhir, untuk menghalau angin dan elemen-elemen lain saya juga memasang windshield dari Geba yang memang didesain khusus untuk Kawasaki KLX/D-Tracker. Cukup berkomunikasi lewat whatsapp, pilih jenis windshield yang akan dibeli, transfer uangnya dan barang siap dikirim sampai ke rumah. Cara memasangnya juga cukup mudah dan dapat dilakukan sendiri, walau memakan waktu yang cukup lama bagi saya untuk memasangnya sendiri.  

nb: Setelah handguard terpasang saya belum sempat foto lagi...

Monday, November 28, 2016

Ke Bima..day 6

Diorama di Jatim Park 1
Hari ke-6...saatnya mencoba pemanas air yang hari kemarin baru saja kami beli. Tidak tanggung-tanggung, pemanas air yang berkapasitas tidak sampai satu liter tersebut akan kami gunakan untuk memasak air untuk mandi. Percobaan pertama berhasil, air berhasil menjadi panas dan saya mempersilakan istri saya untuk mandi terlebih dahulu dan saya akan kembali memasak air untuk saya sendiri. Di kamar hotel tersebut, tidak tersedia banyak outlet listrik, sehingga kami agak kesulitan sewaktu memasak air tersebut dan karena itu pula kami harus meletakkan pemanas air tersebut di atas kasur. Sebelum istri saya mandi, saya sempat mengambil air dari kamar mandi untuk dimasak, sambil saya membayangkan enaknya mandi menggunakan air hangat di pagi yang cukup sejuk itu. Sambil menunggu air masak, saya membuka-buka hp dan sebentar-sebentar melirik ke arah pemanas air tersebut. Setelah istri saya hampir selesai mandi dan saya telah selesai membuka-buka hp, saya kembali melirik ke arah pemanas air tadi dan saya melihat ada sesuatu yang aneh dari pemanas air itu. Aneh karena airnya tidak mengeluarkan gelembung-gelembung kecil seperti tadi dan saya dekatkan tangan ke atas permukaan air tersebut dan ternyata airnya masih saja dingin. Tidak mau ambil resiko tersengat aliran listrik, saya mencabut pemanas air dari stop kontaknya dan memasukkan jari ke dalam air, dingin, itu yang saya rasakan. Saya coba membetulkan sambungan kabel yang menancap di alat itu dan memindah colokan listriknya ke outlet yang lain, namun hasilnya sama saja, air tetap dingin. Saya belum mau mengakui jika alat yang baru terpakai sekali itu rusak, sehingga saya tetap mencoba memanaskan air sementara saya mandi menggunakan air dingin. Setelah mandi saya kembali mengecek airnya dan tetap saja..dingin.. Ya sudah, akhirnya saya mengalah dan mengakui bahwa alat itu rusak, busted, tidak bisa dipakai dan menerima kenyataan bahwa kami akan tetap mandi air dingin pada mandi-mandi berikutnya di hotel ini. Pemanas air itu, walaupun sudah rusak, anehnya tidak kami buang, dan masih tersimpan rapi di dalam box plastik yang kamu bawa selama perjalanan.

Setelah selesai urusan permandian, saatnya menghibur diri dengan mencari sarapan yang agak berbau ayam. Ya, pilihannya tentu saja jatuh kepada restoran ayam goreng cepat saji yang paling jago. Yup, tidak jauh dari hotel memang terdapat restoran itu dan kami hanya perlu berjalan kaki saja sebentar. Pulang dari makan ayam goreng, kami sempat mencari toko alat listrik untuk membeli colokan listrik tambahan atau rol kabel untuk tambahan colokan di kamar hotel yang hanya sedikit. untuk menghemat uang jajan,kami memilih rol kabel yang termurah. Kami membutuhkan banyak colokan listrik karena memang gadget yang harus kami charge cukup banyak. Pada perjalanan ini kami membawa:

1. HP masing-masing 1 buah = 2 buah
2. HP sebagai secondary GPS = 1 buah
3. Kamera digital = 1 buah
4. Action Cam = 1 buah
5. GPS = 1 buah (memang dapat diisi daya di mobil namun sering saya lepas untuk menentukan rute     dan membuat waypoint)
6. Tablet (bukan obat) untuk browsing tujuan dan memesan penginapan = 1 buah

Kami sebenarnya juga telah melengkapi si Blue dengan power inverter yang dapat mengubah listrik dari lighter mobil menjadi listrik AC 220V, namun pada prakteknya di perjalanan, jarang sekali kami mengisi daya semua gadget kami di mobil, paling hanya HP/tablet saja.
Lion and lioness of Jatim Park I
Hari itu tujuan kami adalah kembali ke Batu untuk mengunjungi Museum Angkut dan Jatim Park 1, kami berdua sama-sama belum pernah mengunjunginya, jadi alasan kami kesana adalah karena rasa penasaran. Setelah selesai membeli rol kabel, kami bersiap-siap dan segera melaju kembali ke Batu setelah acara halal bihalal di kantor Bupati (kalau tidak salah ingat) di depan hotel selesai karena selama acara itu berlangsung, jalanan di depan hotel ditutup. Seteleh GPS menunjukan bahwa Museum Angkut berada tidak jauh lagi, kami terkejut karena antrian mobil yang akan menuju ke Museum Angkut sangatlah ramai, hingga mengular naga panjangnya bukan kepalang. Namun, karena tekad sudah bulat, kamipun ikut mengantri dan bersabar karena memang tempatnya masih belum buka. Setelah mengantri cukup lama, kami entah bagaimana mendapat parkir bukan di halaman parkir resmi Museum Angkut, melainkan di semacam tanah lapang di sebelah komplek museum. Ya, tidak apa-apalah, walau saya tahu ongkos parkirnya pasti jauuuuh lebih mahal.

Setelah turun dari mobil, kami ikut mengantri karcis dan ternyata antrian manusia yang akan membeli
karcis juga sangat panjang, sangaaaatttt panjaaaang. Namun sekali lagi, karena tekad sudah bulat ya kami tetap ikut mengantri. Akhirnya tiba giliran kami sampai di depan loket dan berhasil membeli tiket. Kami menuju ke pintu masuk dan tiba di ruangan yang sangat besar yang berisikan koleksi sepeda motor dan mobil kuno yang cukup banyak. Kami pikir, inilah ruang pamer utama museum ini dan hanya sebentar saja pasti akan selesai berkeliling. Namun dugaan kami salah besar karena kompleknya sangat besar dan terbagi menjadi berbagai macam tema seperti Hollywood, untuk kendaraan-kendaraan dari Amerika dan negara Inggris, untuk kendaraan-kendaraan yang berasal dari Inggris dan kami memerlukan waktu hampir tiga jam untuk menyelesaikannya. 

Replika karapan sapi kalo gak salah...
Setelah puas (dan lelah) berkeliling di Museum Angkut, kami lalu menuju ke semacam pameran kesenian atau kebudayaan yang berada di komplek museum. Pameran tersebut berisikan barang-barang yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia seperti topeng dan senjata-senjata kuno, setelah itu kami mampir ke semacam arena kuliner bertema Venice yang masih juga berada di lingkungan museum, kami sempat makan sebangsa siomay atau batagor untuk mengganjal perut dan menyudahi kunjungan ke Museum Angkut kali itu. Untuk kunjungan kami ke Museum Angkut ini saya tidak bisa menjelaskan terlalu detail karena selain kejadiannya sudah lebih dari setahun yang lalu, file-file foto khusus Museum Angkut ini hilang, raib, gone with wind, musnah entah kemana, padahal foto-foto perjalanan sebelumnya dan setelah Museum Angkut ini ada. Bahkan foto-foto di Jatim Park I, yang masih satu hari dengan Museum Angkut masih ada, aneh.

Hari sudah agak sore ketika kami sampai di Jatim Park 1, bahkan kami termasuk rombongan terakhir yang masuk ke Jatim Park 1. Isi dari Jatim Park 1 ini mirip TMII menurut saya, kebanyakan berisikan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Permainan anak juga tersedia disini, namun jumlahnya sedikit, inti dari Jatim Park I ini mungkin untuk menambah wawasan mengenai Indonesia, jadi yang diutamakan adalah isinya. Kalau seperti kata orang akuntansi itu substance over form, lebih mementingkan isi daripada bentuk. Tidak sempat banyak berhenti dan mengambil foto karena memang tempatnya sudah akan tutup, kami melaju menuju pintu keluar dan langsung kembali menuju Malang. Sebelumnya untuk mengganjal perut (lagi) dan sekalian makan malam, kami makan di Hot CMM sambil menunggu kepadatan kendaraan yang turun dari Batu ke Malang berkurang. Setelah selesai makan kami kembali ke hotel, untuk beristirahat, sepertinya tidak mandi karena udara dingin dan thanks to broken water boiler, kemudian packing karena besok, sanak saudara dari Istri yang akan menuju ke Jember akan tiba di Malang untuk menginap semalam dan kami harus check out dari hotel Santosa..ZzZzZz
Peta Jatim Park I


Thursday, November 24, 2016

Ke Bima..day 3

Pada postingan sebelumnya saya telah menceritakan tentang bagaimana berubah-ubahnya rencana kami saat itu, karena memang ya tidak ada sesuatu yang pasti dalam sebuah road trip, touring maupun backpacking, semua rencana dapat berubah seketika karena banyak hal. Tapi perubahan rencana tersebut bukanlah sesuatu yang buruk, itu adalah bagian dari perjalanan yang harus kita hadapi. Selalu berpikiran positif itu salah satu kuncinya, jika kita tidak dapat mencapai tempat yang direncanakan, itu bukan masalah, karena prinsip saya, seperti banyak qoutes tentang travelling, adalah the destination is not that important, the journey is. Intinya adalah sebisa mungkin fokus kepada perjalanan, nikmatilah perjalanannya, jika bisa mencapai tujuan, well, that`s the bonus.

Berikut ini akan saya tampilkan rute perjalanan berangkat dari Yogyakarta, Tuban, hotel Cerah di Paiton, kembali ke Pasuruan, Malang, Probolinggo, Jember, Singaraja, Lombok, Bima.


Pada hari ketiga perjalanan, kegalauan dimulai. Pada hari ini kami mulai bimbang apakah tetap akan melanjutkan perjalanan menyeberang ke Bali atau berputar-putar dulu di Jawa Timur selama kurang lebih seminggu agar dapat menghadiri pernikahan di Jember, baru kemudian menyeberang ke Bali. Ada juga alternatif lain yang sempat kami pikirkan saat itu, namun akan sangat tidak efektif dan efisien, yaitu kami menyeberang ke Bali dan Lombok mungkin pada hari itu, stay selama kurang lebih seminggu, kemudian baru menuju ke Jember dan dilanjutkan dengan pulang ke Yogyakarta.

Namun akhirnya, setelah dibicarakan dengan saksama, diputuskan bahwa, menghadiri pernikahan dulu sebelum ke Bali adalah pilihan yang tepat, karena memang kami juga belum pernah berkeliling Jawa Timur bagian timur dan selatan. Hal lain yang membuat kami mengubah rencana adalah pada pagi itu, kami dihubungi oleh sepupu kami bahwa dia sedang berada di penginapan di RM. Tengger di Pasuruan. Kamipun dengan segera memutuskan untuk segera menuju ke arah Pasuruan dan memintakan sepupu kami untuk mencarikan kamar dan Alhamdulillah, masih ada kamar kosong. Rencana kami seketika berubah menjadi kembali ke arah Pasuruan, menginap disana selama satu malam dan kemudian menuju ke Malang, dimana saudara dari istri berkumpul untuk bersama-sama menuju ke Jember.

Jalanan di Sumbawa
Setelah check out dari hotel Cerah, kembalilah kami menuju ke arah barat untuk sampai ke RM Tengger di kota Pasuruan yang jaraknya tidak begitu jauh. Sebelum tengah hari kami telah sampai dan beristirahat sebentar. Sore harinya kami keluar mencari makanan kecil untuk di penginapan dan tali jemuran kacil untuk kami pasang di mobil. Dalam perjalanan ini kami memang sudah bersiap membawa deterjen dan ember lipat untuk mencuci pakaian in case di penginapan tidak tersedia jasa cuci mencuci atau karena kami memang hanya transit semalam dan menggunakan jasa laundry di penginapan tidak memungkinkan. Setelah semua didapat, kami kembali ke penginapan, untuk mandi dan beristirahat dan memesan makan malam dari rumah makan penginapan.....


Ke Bima..day 2

Setelah sekitar pukul 5 sore kami sampai di rumah saudara di kota Tuban, kami lanjutkan dengan bertemu saudara-saudara lainnya untuk saling bermaaf-maafan dan kemudian beristirahat. Keesokan harinya, yaitu hari kedua lebaran di tahun 2015, setelah bersama-sama ziarah ke makan kakek dan makam-makam lainnya, kamipun berencana untuk langsung menuju pulau Bali karena orang tua juga sudah harus berangkat ke Jakarta bersama dengan saudara kembar saya pada siang itu. Rencana yang telah kami tetapkan saat itu, karena libur kami terbatas dan kami ingin mencapai titik terjauh yang kami bisa adalah dengan melewatkan pernikahan sepupu istri saya dan lanjut menuju pulau Bali saat itu juga. Maka setelah sholat Dhuhur, berangkatlah kami menuju timur pulau Jawa dengan melewati jalur pantai utara Jawa Timur, jadi kami tidak mengambil jalur utama Tuban-Surabaya melewati kota Babat, namun melewati tepi pantai utara Jawa Timur sampai dengan lokasi Wisata Bahari Lamongan (WBL), terus melewati tol di kota Gresik, tol Surabaya-Gempol, Sidoarjo dan keluar di sekitar kota Bangil.

Menuju pelabuhan Kayangan di Lombok
Hari sudah semakin sore ketika kami mencapai Bangil, dan pada saat itu, niatan untuk harus sampai ke Bali masih sangat besar, jadi dengan meningkatkan kecepatan si Blue, kami terus melaju ke arah timur menuju Banyuwangi. Di sekitar kota Probolinggo, kami istirahat sejenak untuk sholat Ashar, pada saat itu sudah sekitar pukul 5 sore dan niat untuk langsung menuju ke Bali sudah tidak sebesar tadi, karena selain perjalanan masih cukup jauh, saya juga tidak berani menyeberang ke Bali malam hari. Sampai saat itu, kami masih berpegang pada rencana untuk melewatkan pernikahan sepupu istri saya di Jember dan jika kami tidak dapat menyeberang ke Bali malam itu, kami tetap akan menyeberang keesokan harinya setelah menginap semalam.

Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah sholat Ashar dan hari sudah sangat gelap ketika kami memasuki daerah Paiton. Karena badan juga sudah lelah dan takut untuk menyeberang pada malam hari, makan kami putuskan untuk mencari penginapan dan mengakhiri hari itu. Tidak banyak pilihan penginapan di daerah tersebut, namun kami berhasil menemukan satu penginapan yang lumayan bersih dan terjangkau, yaitu Hotel Cerah di daerah Paiton, yang berlokasi di belakang toko besi Cerah. Lagi-lagi tidak banyak foto yang kami ambil saat itu karena memang jalurnya sudah pernah kami lewati sebelumnya dan memang kami tidak banyak berhenti untuk mengejar waktu. Sampai hari ini, kami masih berpegang pada rencana untuk melewatkan pernikahan sepupu istri dan melaju sejauh mungkin ke timur.
Menuju ke Pink Beach, Lombok

Rencana perjalanan kami kali ini sudah banyak sekali berubah sejak pertama kali kami membicarakannya. Awalnya kami akan melakukan perjalanan ini dengan menggunakan sepeda motor dan hanya akan sampai ke Larantuka saja, namun karena libur yang terbatas dan kami harus menghadiri pernikahan sepupu istri saya di Jember, kami putuskan untuk memajukan jadwal keberangkatan dan mengganti kendaraan dengan menggunakan mobil, karena akan sangat membuang waktu jika kami ke Jember menggunakan mobil, kemudian kembali lagi ke Yogyakarta dan kembali menuju timur dengan menggunakan sepeda motor. Karena jadwal keberangkatan kami dimajukan, maka kami berpikir mungkin kami dapat pergi lebih jauh lagi ke Timur, maka kamipun berencana, jika memungkinkan akan mencoba ke pulau Timor, yaitu Kupang, Atambua dan mungkin menyeberang ke negara tetangga. Kami sudah mencari-cari informasi, rute, penginapan, dan bahkan sudah menghubungi kolega saya di KBRI negara tetangga untuk mencari informasi mengenai kemungkinan mengendarai kendaraan yang teregistrasi di Indonesia ke sana.

Namun, hal tersebut pada akhirnya tidak dapat terlaksana juga karena ternyata jadwal masuk kuliah kembali istri saya berubah menjadi lebih cepat dan jadwal yang telah kami susun kembali berantakan. Kami sempat berpikiran untuk tidak jadi menghadiri pernikahan sepupu istri saya di Jember dan tetap pada rencana awal, namun setelah kami pikir-pikir kembali, bertemu dan berkumpul bersama sanak saudara jauh lebih penting dan perjalanan ke timur, akan tetap dilakukan, namun tidak ditetapkan target tertentu, hanya mengendarai mobil ke arah timur sampai waktu libur habis dan kembali lagi ke Yogyakarta..Sungguh memang benar perkataan "Manusia berencana, Tuhan yang menentukan" itu....

Wednesday, November 23, 2016

Ke Bima...day 1

Perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang sebenarnya tidak sesuai dengan rencana kami (saya dan istri) karena jadwal libur yang berubah dan keterbatasan waktu yang kami punya. Rencana awalnya adalah kami akan pergi ke Larantuka menggunakan sepeda motor, namun karena tepat seminggu setelah lebaran sepupu dari istri saya menikah di kota Jember, maka kami sepakat untuk pergi menggunakan mobil saja karena jika harus datang ke pernikahan di luar kota menggunakan sepeda motor sangatlah tidak nyaman dan praktis. Walaupun pernikahannya masih seminggu setelah lebaran, namun kami berangkat meninggalkan kota Yogyakarta pada hari pertama lebaran karena setelah Sholat Idul Fitri bersama keluarga dari istri saya, kami harus pergi ke kota Tuban untuk bertemu dengan orang tua saya yang hari sebelumnya telah berangkat ke Tuban untuk merayakan lebaran disana. Kami sempat mempunyai rencana untuk tidak jadi datang ke acara pernikahan sepupu istri saya dan langsung melanjutkan perjalanan ke timur, namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami tetap pergi ke Jember walaupun sebelum itu kami sempat menginap di Bondowoso, Pasuruan dan Malang terlebih dahulu...

Somewhere diantara Sumbawa Besar dan Dompu
Kami berangkat sekitar pukul 10 atau 11 siang dari rumah mertua saya di jalan Parangtritis Yogyakarta, melewati Kotagede, Gedong Kuning dan akhirnya sampai ke jalan Solo. Perjalanan kali itu tidak langsung menuju ke Tuban, yang berada di pantai utara Jawa Timur, namun harus mengantar ibu mertua saya ke Solo dulu, baru setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Tuban. Jalanan relatif lancar pada siang itu, mungkin karena masih banyak orang yang berkumpul bersama dengan keluarganya. sekitar pukul 1 siang kami sampai ke kota Solo dan mampir sebentar, bersalam-salaman dengan keluarga di Solo dan melanjutkan perjalanan. Dari kota solo kami mengikuti jalur utama menuju kota sragen, ngawi dan kemudian berbelok ke arah utara menuju kota Bojonegoro. Di sekitar wilayah Padangan kami sempat beristirahat sejenak untuk sholat jama` Dhuhur dan Ashar. Jalanan menuju arah Bojonegoro dari Ngawi sudah relatif mulus dan hanya sedikit kendaraan yang lewat jadi kami bisa memacu si Blue lebih cepat dan pada sekitar pukul 5 kami sudah sampai di jalan WR Supratman di kota Tuban....

Dashboard Suzuki Karimun Wagon R
Pada perjalanan kali ini kami menggunakan mobil kecil yang punya tagline SMART dari pabrikan berlambang huruf "S" yang saat itu baru berumur sekitar 6 bulan. Mobil LCGC (Low Cost Green Car) ini adalah mobil pertama kami yang benar-benar masih standar untuk mesinnya. Keputusan kami membeli mobil merek ini dibanding merek yang lain adalah karena saya sudah sangat mengenal merek ini. Bayangkan saja, orang tua saya sudah mempunyai 3 jenis mobil dari merek ini selama 10 tahun tanpa pernah ada masalah berarti ditambah dulu juga pernah merasakan Suzuki Sidekick lama milik saudara selama beberapa bulan. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak membeli si Blue ini. Alasan lain adalah dengan harga yang cukup rendah dibandingkan dengan merek lain, kami dapat fitur standar yang lumayan, versi GL dengan audio single DIN, AC, power steering, central lock, power window (walau hanya untuk jendela depan), immobilizer, seatbelt untuk kelima penumpang, roofrail, dan kabin yang menurut saya lumayan lega dibandingkan dengan merek lain karena bentuknya yang cenderung kotak sehingga ruang di atas kepala juga cukup tinggi. Tidak banyak ubahan yang saya lakukan, saya hanya mengganti ban bawaan dengan diameter yang lebih besar yaitu R14, mengganti lampu depan dengan Osram NBR, menambahkan third brake light variasi, menambahkan Balance Sport Damper di semua kaki-kaki, memasang alarm, kaca film Solar Gard dan memasang sarung jok variasi. 


Saturday, February 20, 2016

Eastbound...Part 1

Perjalanan dengan sepeda motor kali ini adalah perjalanan dengan total jarak terjauh yang pernah saya dan istri saya tempuh. Perjalanan dimulai dari jalan Parangtritis di Yogyakarta menuju bali melalui jalur selatan pulau Jawa. Perjalanan ini memakan waktu selama 10 hari. Ya, memang sangat lama untuk perjalanan dengan jarak yang mungkin tidak terlalu jauh dan hanya satu kali jalan, bukan perjalanan pulang pergi, karena memang kita berhenti hampir di setiap kota besar yang dilewati.
 
Pantai Banyu Tibo
Tujuan lainnya adalah karena saya ingin mencoba mainan (baca: sepeda motor) baru saya yaitu Kawasaki d'tracker 2016) belum banyak ubahan yang saya lakukan terhadap sepeda motor ini, hanya menambahkan bracket custom untuk top box dan menambah busa jok yang aslinya menurut saya sangat tipis, selain itu semuanya masih sutandar..darr..  

Pantai Banyu Tibo

Hari pertama kami berhenti di kota Pacitan setelah sebelumnya kami mengunjungi pantai Banyu Tibo, pantai Mbuyutan dan pantai Srau. Jika dari arah Yogyakarta menuju ke pantai -pantai tersebut tidaklah susah. Tinggal ikuti petunjuk di sepanjang jalan. Untuk pantai Banyu Tibo dikenakan biaya masuk 5000 rupiah per orang dan biaya parkir 2000 rupiah. Penampakan pantai Banyu Tibo ternyata tidak seindah yang digembar-gemborkan. Banyaknya warung di pinggirnya cukup mengganggu pemandangan. Lagi pula kita tidak bisa bermain pasir karena ombaknya cukup kencang dan pantainya berada di dasar tebing.
 
Pantai Mbuyutan
Setelah berfoto secukupnya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Mbuyutan. Dari pantai Banyu Tibo ke pantai Mbuyutan memakan waktu 1 jam melalui jalanan yang aspalnya sudah terkelupas di sana sini. Perjalanan ke pantai Mbuyutan diakhiri dengan menuruni jalan beton yg cukup curam. Pemandangan di pantai Mbuyutan merupakan yang terbaik di antara 3 pantai yang kami kunjungi hari ini. Garis pantainya yang panjang dilengkapi dengan deburan ombak yang cukup tenang dan pasirnya yang putih. Saat kami berkunjung, tidak banyak orang di pantai ini. Sungguh serasa pantai pribadi. He3. Di pantai ini tidak perlu membayar retribusi, bahkan uang parkir. Beberapa warung menjajakan menu nasi goreng, mie instan dan aneka minuman dengan harga terjangkau.
 
Pantai Srau
Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan ke pantai Srau. Jalan menuju panrai Srau cukup mudah. Dari pantai Mbuyutan ke pantai Srau hanya memakan waktu 30 menit. Kawasan pantai srau paling tertata di antara 3 pantai yg lain. Pedagang sudah ditempatkan pada bangunan permanen dan terdapat Mushola dan kamar mandi umum di area ini. Garis pantai Srau juga panjang dan pasirnya juga putih walaupun tidak seputih pantai Mbuyutan. Karena sudah sore suasana di pantai Srau cukup ramai.

Perjalanan kemudian kami lanjutkan menuju penginapan, karena belum melakukan booking sebelumnya, kami sempat berhenti sejenak di sebuah masjid untuk istirahat, sholat dan mencari tempat menginap. Hanya ada beberapa penginapan di pusat kota yang sesuai dan karena hari sudah semakin gelap kami memutuskan untuk menginap di Hotel Pacitan. Hotel ini terletak di jalur utama di seberang alun-alun kota Pacitan.
Hari kedua kami berniat mencari sarapan di sekitar alun-alun, namun, mungkin karena masih terlalu pagi, kami tidak melihat ada penjual sarapan yang buka dan kami memutuskan untuk kembali ke hotel dan bersiap melanjutkan perjalanan. Tujuan kami di hari kedua ini adalah kota Trenggalek. Kami berencana lewat jalur selatan karena penasaran dengan Pantai Soge yang dapat dilihat dari jalur selatan Pacitan. Sebelum sampai Pantai Soge, kami mampir dulu sarapan di warung mie ayam. Setelah selesai sarapan, gerimis mulai turun dan kami pun bergegas untuk segera melanjutkan perjalanan.
 
Makan mie ayam
Jalan lintas selatan yang menghubungkan Pacitan dengan kota Trenggalek terbilang cukup mulus, namun banyak tanjakan yang cukup curam yang cukup membuat si Suki (motor saya) kewalahan, apalagi setelah melewati JLS dan kembali ke jalur utama Pacitan-Trenggalek. Di tengah perjalanan hujan pun turun sehingga kami pun harus berteduh sebentar. Sebenarnya, pada saat itu kami membawa jas hujan, namun karena kami malas memakai dan juga membereskannya lagi, kami enggan memakainya. Setelah hujan berhenti dan berganti gerimis kecil kami pun melanjutkan perjalanan. Karena pada hari itu adalah hari Jumat, saya pun berhenti sejenak untuk menunaikan sholat Jumat, namun setelah selesai sholat, hujan turun dengan derasnya dan karena kami masih malas mengenakan jas hujan, kami pun berniat menunggu hingga hujan reda.

Setelah menunggu cukup lama, bersama dengan jamaah yang lain, hujan belum juga reda dan pada akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jas hujan setelah mendapatkan informasi bahwa kota Trenggalek tidak jauh lagi.
Rencananya, kami akan mengunjungi hutan mangrove di pantai Cengkrong, namun jika melihat dari gmaps maupun gps yang saya punya, dari arah sebelum kota Trenggalek dari arah Pacitan, tidak ada jalan yang cukup pasti untuk sampai ke sana tanpa melewati pantai Prigi, yang jalurnya berada di sebelah timur kota Trenggalek, kami pun membatalkan rencana tersebut dan langsung menuju kota Trenggalek.
 
Berteduh antara Pacitan-Trenggalek
Di tengah hujan lebat, sampailah kami di kota Trenggalek dan kami mampir sejenak ke pom bensin untuk mengisi bensin sekaligus mencari hotel yang tersedia. Dari review yang ada dan juga faktor harga, kami memutuskan untuk menginap di hotel Widowati. Hotel yang kami tempati cukup nyaman, kami memilih kamar dengan AC dan air panas karena AC akan kami gunakan untuk mengeringkan riding gear dan pakaian kami yang istri saya cuci dan air panas karena kami ingin menghangatkan diri setelah kehujanan dan karena di hotel di Pacitan kami memilih hotel yang tidak menyediakan air panas.

Hari sudah sore sewaktu kami tiba di hotel dan karena hujan di sepanjang perjalanan, kami tidak sempat makan siang, kami memesan makan di hotel tersebut dan beristirahat sambil menunggu hujan reda. Hujan pun tak kunjung reda, kami memutuskan untuk memesan makan malam dari hotel dan tetap tinggal di kamar hingga pagi tiba. Setelah mandi pagi kami pergi ke lobi untuk sarapan dan segera bersiap-siap untuk menuju ke kota berikutnya.

Blitar, itu adalah kota tujuan kami selanjutnya, jaraknya tidak begitu jauh dari Trenggalek dan siang hari, kami pun sudah tiba di Blitar. Sebelumnya kami sempat browsing dan memilih-milih hotel mana yang akan kami tempati selama di Blitar, agar tidak salah pilih seperti hotel kami di Pacitan. Akhirnya, pilihan jatuh kepada hotel Patria Garden. Kami tidak melakukan reservasi terlebih dahulu di hotel itu namun memutuskan untuk go show. Alhamdulillah masih ada kamar tersedia, walaupun jenis kamar yang kami inginkan sudah habis karena menjelang hari raya Imlek namun selama perjalanan, Hotel di Blitar inilah yang menurut kami berdua paling baik value for money-nya.
 
Salah satu ruangan di Istana Gebang
Setelah sholat dan menurunkan barang bawaan, kami menuju rumah masa kecil Presiden pertama RI atau disebut juga dengan Istana Gebang. Sebenarnya tidak ada maksud khusus, namun kami hanya penasaran. Alasan lainnya adalah jika kami sudah sampai Blitar akan terasa aneh jika kami tidak mendatangi tempat yang berhubungan dengan Presiden pertama RI tersebut.

kami memutuskan untuk mencari makan siang setelah dari Istana Gebang dan setelah melakukan riset singkat, pilihan jatuh kepada soto Bok Ireng yang katanya cukup terkenal di Blitar. Porsinya cukup kecil namun rasanya menurut saya pribadi cukup enak, hanya istri saya yang tidak begitu suka dengan rasanya.
 
Soto Bok Ireng
Tujuan selanjutnya adalah Tempat yang kami tuju berikutnya adalah candi Penataran yang sering disebut di pelajaran sejarah. Tidak ada alasan khusus juga mengapa kami mendatangi candi ini, hanya karena sering disebut di pelajaran sejarah dulu maka kami penasaran terhadap candi tersebut. Setelah dari candi Penataran, tidak ada agenda lainnya, kami hanya mampir ke toko serba ada di kota Blitar untuk membeli makanan kecil, minuman dan detergen setelah itu kami pulang kembali ke hotel.

Setelah menunaikan sholat Maghrib, kami pun kembali keluar untuk mencari makan malam, sebenarnya kami mencari nasi jagung ampok yang terkenal di Blitar, namun karena tidak menemukannya, kami pun membeli ayam goreng di depan toko pakaian Apollo di Blitar, setelah itu, kami kembali ke hotel untuk beristirahat...
Komplek Candi Penataran

Monday, May 10, 2010

First Tiny Steps



At last, on the 29th of April 2010 our first step on the Asia Continent has finally become reality. After a quite stressing research and complicated planning which took four month we could have our very first experience in exploring two countries in South East Asia.

Malaysia and Thailand were chosen as the destination countries because of two main reasons. First is because we as Indonesian don’t need any visa to enter those countries and second is because those countries are relatively close to Indonesia so we didn`t need to spend much money for the transportation. Penang or Pulau Pinang in Malaysia and Krabi in southern Thailand were the City we visited during our trip.

The reason why we chose Krabi and Penang was because it has many interesting places to visit and we could reach it from Penang overland. Bangkok was the first in our city list during the planning process, but seeing that there was no improvement in its political and security condition, we decided not to go there.

Tuesday, April 27, 2010 we took third class night train to Jakarta. The third class or the economy class train was quite cheap, but as we all know that it was not comfortable at all. We decided to buy 4 seats for two of us because we thought that the seat was too small for us to sit and we brought big backpacks so we could still hold them when we are sleeping. The train costs Rp 140.000 for 4 seats.

April 29, 2010. Jakarta - Penang.

Finally the day that we have been waiting for was coming. At 4am we took a taxi to the Soekarno Hatta airport which cost us Rp 101.000. Approximately after 1 hour riding the taxi we arrived at the airport, checking in and pay for Rp 150.000 to get the boarding pass. then we went to the “bebas fiskal” counter to clear the fiskal matters. Fiskal is some kind of fee that people should pay before they go abroad, but in Indonesia, at least until we went to this trip those who have Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) or Tax Identification Number (TIP), still under 21 years old of age or over 21 years old but still don’t have their own income and still become the dependent family member from a working parents (which have NPWP or TIP) don’t have to pay fiskal. This can be proved by showing the photocopy of “kartu keluarga” and the NPWP of the parents. Immigration counter was our next destination in Soekarno Hatta International Airport. We did not get much trouble in this counter except we forgot to fill the Indonesian departure and arrival card and spent less than 5 minutes to fill it up.

Then, precisely at 6.55 am the plane set off to Bayan Lepas International Airport in Penang. We book the round trip plane tickets less than 1 month before departure so the price might be a little bit high. We needed to pay for Rp 1.179.000 per person. The price was included airport tax, insurance and baggage fee.

At 9.00 sharp the plane landed safely at Bayan Lepas International Airport in Penang and it was 20 minutes earlier than the schedule. So, there we were, alone at the strange airport and did not know where the bus stop was. After 20 minutes trying to find the bust stop we gave up and ask security officer (which thing that we should do earlier) and found out that the bus stop was at the second floor. We hopped on Rapid Penang bus number 401E that brought us directly to Komtar, the central bus station in Georgetown and paid for 2.7 RM each.

Even though we already booked a hotel in Georgetown we still didn’t have any idea where the location was, so we decided to catch a taxi and pay 20 RM. After we got off the taxi we were a little bit surprised because our hotel was so close to Komtar.

After checking in and relaxed for a bit, we started to plan the places that we were going to visit and we decided to follow the heritage tail brochure that we found in hotel lobby. The temperature was quite high at that time and we totally forgot to bring hat or cap to cover our head. But it was okay because we were very excited at that time so we walked around the city in a broad daylight. The very first place we visited was the Christian Cemetery, although it was included in one of the places we should visit (according to the brochure) the place was quite untidy and scary and it didn’t look like a tourist attraction. (NOTE: to bring hat or cap or whatever you like to cover your head and big bottle of mineral water is a must if you plan to visit places on foot)

The next destination was the Cheong Fatt Tze mansion. This was the house of a rich Chinese businessman who lived in Penang named Cheong Fatt Tze There was nothing special about the house except the combination of old Chinese style house with a little bit western touch in its floor tile. We were lucky (or unlucky) when we got there because a tour which only be held twice a day was about to begin and we have to pay for 12 RM each for the tour. The tour was guided by mid aged Chinese descendant women who could speak fluent English. We were not the only guest attending the tour, there are more than 20 people from many countries took part.

After the tour was over we went straight to Penang State museum, but nobody was there and we thought it was close so we just went back to the hotel and in our way back we passed the Goddess of Mercy Temple and tried to go inside and took some pictures but we didn’t.

As this was our very first time become tourist in other country, we didn’t know anything of what should be brought when going around on foot, so at that time we didn’t bring hat or cap and single drip of water and we almost pass out because of that.

We realized that we ate no breakfast and lunch and it was already 3pm, so we decided to find something to eat. It was a little bit difficult at the first time because we didn’t see any Halal food stall or restaurant. There were many Chinese restaurant and food stall in Penang and we didn’t want to take any risk eating Haram food. We keep on walking until we saw Halal sign in one restaurant called Jaya at the Penang St, so we stopped and order. It was Nasi Biryani with all of its accessories and a big bottle of mineral water for our very late lunch and we have to pay for 7.50 RM each.

After we reached the hotel, we took a rest for a while and start planning what we should do tomorrow. After a quite long dispute, we decided to go to Krabi tomorrow morning. Then problem raised, first we still didn’t have Baht in our wallet, no hotel to stay in Krabi and no transportation to Krabi. Luckily the hotel we stayed, Mingood Hotel which costs each of us 45 RM per night had transportation service to Krabi for only 60 RM. One problem was solved but still we had two more problems to solve. With the help of the laptop we brought we managed to book a room in The Greenery Hotel in Krabi for two nights through the internet and it cost us 850 THB each. Two problems solved, and we still got one more problem, currency problem. It was 8pm when we asked the hotel receptionist, who were a friendly Indian guy, where the nearest money changer was but he said that they were probably closed by that time. But then suddenly he said that he could help us then started calling all the money changer he knew. Lucky us, one of them was still open and we could exchange our money into Baht right in the hotel. Yes, right in the hotel because one of the employee (or the owner itself) came directly to the hotel we stayed and we made transaction there.

After all the problems were solved we went out to find dinner, it was a little bit late so most of the food stalls were closed but not too far from our hotel we found Sop Hameed, it was food stall selling various types of soup. I ordered chicken soup with rice and soya milk for the drink for 6 RM. We went straight back to the hotel, packed all the clothes again and went to sleep.

April 30, 2010. Penang - Krabi.

The departure schedule for the van we were going to ride to krabi was at 8.30 am so early in the morning I woke up, took a bath, grabbed free breakfast from the hotel and waited for the van at the hotel lobby. The van came, and the driven loaded our backpacks in the trunk and started to drive...recklessly. Our speedy and bumpy ride should stop at the city called Hat Yai, this is the second biggest city in Thailand to change van. After we seated in the other van that would take us to Krabi then suddenly the driver drove the car into another stop and told us to change to another van because the current van AC was not working properly.


In the van taking us to Krabi from Hat Yai, there were one Englishman named Mark and 5 Malaysians. I couldn’t remember all of their names but one of them named Lim. Mark was a real backpacker because he already left his hometown for more than 10 months to go around the world, while Lim and his friends were from Langkawi and wanted to spend their weekend in Krabi. We were talking about many things with them all the way to Krabi. One of Lim`s friend can speak Thai, so he asked the driver to bring us to Tiger cave (one of the tourist attractions in Krabi) Tiger cave was a unique temple complex because the monk lived and stayed inside the cave. Finally, after more than 9 hours sitting in the van, we reached Krabi, the friendliest small town I have ever been. At the travel agent we stopped, we then also booked van service for us to go back to Penang for 600 THB.


Very first agenda is to go to the hotel we have booked, take a bath and find something to eat. Then we checked at our map and found out that not too far from the hotel there was a night market that we thought might selling something for us to eat. But we were wrong. There was nothing to buy and eat there. The market was only selling fruits, vegetables and some awkward food, so we decided to roam the main street there called by Maharaj Road and found small food stand selling fried chicken. We bought 2 pieces of big fried chicken for 29 THB each and small fried chicken for 13 THB each. Water supply was obviously needed so we headed to 7 eleven and bought two big bottle of mineral water for 15 THB each.




May 1, 2010. Krabi.


Since we stayed at cheap budget hotel, we didn’t get free breakfast and needed to buy by ourselves. Morning market might be the perfect place for us to find something to eat, but again, we were wrong, there were nothing to buy there. Morning market was really market where we could only see meat, vegetables and other raw food materials. We saw one vendor selling yellow rice, but we weren’t quite sure that it was halal. So, we stepped out from the morning market and walked into the Maharaj Road and took some photos in front of Wat Kaew, the main temple in Krabi town. After taking some photos we continued walking down the Maharaj Road but there were only a few food stall and restaurant open so we just keep on walking until we found halal food restaurant, the restaurant was quite crowded, maybe because no other restaurants nearby open.

Then, we ordered rice with chicken and vegetables and a glass of coffee milk for 80 THB each. After it we walked in to the bank of Krabi river. The view was quite beautiful with the Khao Khanap Nam which was one of the Krabi`s landmark. Khao Khanap Nam was two hills of 100 meter high and believed by local people as the guardian of Krabi town. After taking some picturess there then we walked along the river walk to 0 KM of krabi Town and went to opposite direction to the Thara Park. There was nothing to see except long boats were speeding along the river. Thara Park was quite crowded at that time, so we decided to walk back to the town and decided to go to Khao Khanap Nam by using long boat.

It was so easy to find long boat man in Chao Fa pier or along the river walk because they would keep following you until you say no. We met boat man who offered us boat ride when we walked into the Thara Park and he offered us boat ride to Khao Khanap Nam for 500 THB for each of us. We thought that it was too expensive for us so we bargained and lowered the price he offered to 300 THB. At first we didn’t know that the price he offered was for one person, because we thought that it was for two people. So, after a quite long bargaining process we agreed that the price was 200 THB each but at last we agreed to give the boat man 250 THB each.


The long boat ride was quite smooth, and we can see mangrove forest along the way to Khao Khanap Nam. After 20 minutes we arrived at Khao Khanap Nam and we were surprised because there was nobody there except three of us, me, my brother and the boat man. It was so quiet, no other sounds except the sound of birds and insects. We started climbing the stairs following the boat man to the cave inside Khao Khanap Nam. Just like the other cave the major scenery were only stalactites and stalagmites. There was also a diorama of Japanese army who were hidden in the cave at the WWII. The boat man explained to us that this cave was used to be the home of prehistoric men and he showed us the ancient pottery and skeleton half buried in the ground of the cave. He also showed us the ancient wall painting pictured in the wall of the cave.

The next destination after Khao Khanap Nam was the fish farm. That was not like what fish farm we imagined because there were only a few types of fish and it was only for the purpose of tourism. The fish farm girl said that she got all the fishes from the fishermen, put the fishes in the fish farm`s pool and after 1 month she released them again to the river except for edible fishes, she sold it to the restaurant. One of the most beautiful and strangest fish we saw was the blow fish. We bought young coconut for 30 THB and souvenir for 130 THB. WE went back to hotel after that to take a rest for a while and change our clothes.


From the hotel he hit the Maharaj Road again to find something to eat, we decided to walk further to the south and found halal restaurant. Then, I ordered Red Seafood Curry and banana shake for 110 THB. Krabi was so famous of its beaches, so we decided to go to one of the most famous beaches there called Ao Nang. To go to the beach we had to take local bus or people there usually called by Song Teaw and paid for 50 THB 1 trip per person. Song Teaw wasn’t look like a bus, it was a pickup truck with slight modification on its back so the passenger can sit on it. The view on the beach was quite beautiful, the sand was white and the water was clean enough. The karsts on the beach and small islands with mountainous karsts can also be seen from the beach. After buying some souvenirs took enough walk and some pictures we went back to the hotel by using another Song Teaw and paid for 50 THB.

The second night in Krabi, we went to the different night market from the first night. Many food stalls or food hawkers there so we can just pick what food for dinner that night. While we are walking around the night market we bought Thai Pancake twice for 25 THB each. Fried Chili with chicken and water was our menu for dinner or 37.5 THB each.

May 2, 2010. Krabi - Penang.

We checked out from The Greenery Hotel quite early although our van that would bring us back to Penang would be departed from the travel agent at 11.00am. We roamed the Maharaj Road again to find breakfast, but again because it was too early no restaurants or food stall were open. Fortunately we found small food stand selling drinks and we ordered iced coffee for 15 THB. To find local food as souvenir was the main agenda, so we went straight to the snack shop still at Maharaj Road and bought three different snacks as souvenir for 100 THB.


Because it was still early in the morning, the nearest halal food restaurant opened was the same restaurant we had our breakfast yesterday. We ordered the similar menu for the breakfast and iced tea for 60 THB each. The travel agent was the next destination after we had our breakfast, we waited long enough there until we decided to leave our backpacks there and went to the river walk and we stopped near the Chao Fa pier to sit for about an hour before we went back to the travel agent to wait for the van.

The Trip was quite boring with the same type of driver, reckless and always in a hurry. Everybody was busy with their own business inside the van so it was the perfect time to sleep. We also needed to stop at Hat Yai to change van. in the same van with us there was a man from Switzerland who wanted to go to Penang to renew his and his wife`s visa. When we asked how long have you been in Thailand and he answered 1 year. We thought that he was working in Thailand or doing some business, but he told us that he was on vacation.


Arrived at Penang we were taken directly o the same hotel we stayed, Mingood Hotel to stay for two more nights before we left Malaysia and needed to pay for 90 RM per person. It was late at night when we arrived at the hotel and we were too tired to go out and find something to eat so we just ordered food from the hotel. We ordered Chicken black pepper and hot chocolate for 22 RM.

May 3, 2010. Penang.

After grabbing free breakfast at the hotel we went to Campbell Street where the stores situated. We hoped that we can buy souvenirs there but unfortunately, the stores were still closed and we should continue our walk to our next destination, Penang Islamic Museum at Lebuh Armenian with the ticket fee was only 1 RM. The museum used to be the mansion of Syed Al-Attas, an Acehnese who was an Arab-Malay mix trader. Like the other museum, this museum was explaining all about Islam in Penang, its culture, and all Islam related things. Masjid Kapitan Keling was our next destination and it was located near the Penang Islamic Museum. It was one of the oldest Masjid in Penang but unfortunately we didn’t go to see the inside part of the Masjid.


It was still morning when we finished taking picture at the Masjid Kapitan Keling,but something went wrong with my stomach and we should go back to the hotel and on our way back we saw Burmese Temple and took some picturess there. After I finished my duty, we hit the road again to visit Penang State Museum which was closed at the first day we arrived in Penang. On our way to Penang State Museum, we passed the Goddess of Mercy temple and took some pictures. To get to Penang State Museum at Lebuh Light we passed St. George Church which was under reconstruction so we just took the picture from the outside.

The entrance fee of the Penang State Museum was only 1 RM for each of us and it was worth it. We could know the history of Penang or Pulau Pinang from its beginning up to now. It was explained too that there are many people from many nationalities were coming to Penang to start a new life. So if you want to know the history of Penang, you should come to see the museum. Near the museum we met Indian guy selling cold soya milk and we bought it for 1 RM each. The Indian guy was quite friendly, we had a chat for a while before we continued our trip.


Next stop was the city hall. This building had European style so it was quite interesting and made us feel like we were in Europe. Not too far from the city hall there was a memorial monument to honor the patriot who had died in many fights. The most interesting place that we visited in Penang was the fort Cornwallis, because the entrance fee was free although nothing to see there but the place was quite shade because of the trees. Fort Cornwallis was the place where the first Englishman landed in Penang. The fort was a star shaped building and had a lot of cannons.

Actually, theTourist Information Center wasn’t in our list but something had made us stop at that place. Here is a short story of why we should stop by at the Tourist Information Center. When we reached the Thailand – Malaysia border I thought that it would be as simple as when we entered Thailand from Malaysia, but I was wrong. At the Thailand Immigration, everything was OK, we can get the stamp on our passport without any problems, but when we reached the Malaysia immigration check, we should take our entire luggage from the van and put them in the X-ray detector device, but before that we were given the Malaysian departure and arrival card and filled them. Then we proceeded to the X-ray detector and got back to the van. Inside the van I realized that the card given to me was different from the card given to my brother. Mine had a custom declaration part while my brothers didn’t. I was so scared and thought that I did something wrong back at the immigration. So I decided that I should go ask someone about this and the Tourist Information Center was the answer.


The Tourist Information officer didn’t know anything about this and suggested us to go to the Immigration office nearby. After visiting Tourist Information Center but before Immigration office we took some pictures in front of the Queen Victoria memorial tower. At the immigration office, I asked the officer about the differences in the departure cards me and my brother had and the answer was both cards were the same, mine was the old version and my brother`s was the new one.

We decided to go back to the hotel right after we bought a glass strange drink for 1 RM and 2 sweet corn filled pancakes for each of us for 1.2 RM. It was lunchtime when we decided to go back to hotel so at our way back to the hotel we ate at Nasi Kandar Yasmeen at Jalan Penang. The serving portion of Biryani rice we ordered was so big and we needed to struggle to eat all of the rice. Along with the big serving portion the price we should pay was big, each of us needed to pay for 20 RM for Biryani rice plus iced tea plus big bottle of mineral water we ordered. Then we went back to the hotel and took a rest.

After we took enough rest we were heading to the toy museum at Tanjung Bungah, because the place a little bit out of town we took a taxi to get there and paid for 30 RM. The entrance fee of the toy museum was 20 RM and after we paid we directly come inside the museum. The museum was full of action figure from many movies, anime and games or famous toy figures like Barbie. Action figures were everywhere with so many different size and pose and I thought that the Kingkong action figure was the best of all because of the detail and the size that was so big. Then it was the time for us to go back to the hotel. We took Rapid Penang bus that would take us to Komtar bus station and paid for 2 RM each. From Komtar we walked back to the hotel and passed the Prangin Mall, the biggest mall in Georgetown and through the Penang Street to buy some souvenirs. After took some rest at the hotel, we decided to take one last walk around the city and went to Prangin Mall. There was nothing to buy since all music stores were closed. Then we walked straight back to the hotel, packed all the clothes and souvenirs and went to sleep.

May 4, 2010. Penang – Jakarta

We woke up early in the morning although the plane we were going to take would be departed at 10.45 am. We checked out from the hotel, didn’t take the free breakfast at the hotel and went directly to Komtar bus station to take the Rapid Penang Bus to the Bayan Lepas International Airport and it cost us 2.7 RM. WE arrived at the airport at approximately 9am Malaysia time, directly checked ourselves in at the Air Asia counter and waited in the terminal for the plane that would take us back to Jakarta. Arrived at Soekarno Hatta Airport we took the Damri airport bus for Rp 20.000 directly to Gambir train station to take the train back to our hometown, Yogyakarta and it cost us Rp 230.000 for each of us.

Costs per person:

Yogyakarta – Jakarta : Rp 70,000

Taxi to Soekarno Hatta airport : Rp 101,000

Boarding pass : Rp. 150,000

Round trip ticket Jakarta – Penang – Jakarta : Rp 1,179,000

Rapid Penang to Komtar :RM 2.7 = Rp 7,614

Taxi from Komtar to Mingood Hotel : RM 20 = Rp 56,400

Mingood Hotel 1 night : RM 45 = Rp 126,900

Cheung Fatt Tze tour : RM 12 = Rp 33,840

Lunch at Jaya Restaurant : RM 7.5 = Rp 21,150

Dinner at Sop Hameed : RM 6 = Rp 16,920

Van Penang – Krabi : RM 60 = Rp 169,200

The Greenery Hotel 2 nights : THB 850 = Rp 241,400

Van Krabi – Penang : THB 600 = Rp 170,400

Dinner : THB 42 = Rp 11,928

Mineral water 2 big bottle : THB 30 = Rp 8,520

Breakfast : THB 80 = Rp 22,720

Long boat to Khao Khanap Nam and fish farm : THB 250 = Rp 71,000

Drink at fish farm : THB 30 = Rp 8,520

Lunch : THB 110 = Rp 31,240

Song Teaw Krabi – Ao nang – Krabi : THB 100 = Rp 28,400

Dinner : THB 37.5 = Rp 10,650

Thai Pancake :THB 25 = Rp 7,100

Iced coffee : THB 15 = Rp 4,260

Breakfast : THB 60 = Rp 17,040

Mingood hotel 2 nights : RM 90 = Rp 253,800

Dinner : RM 22 = Rp 62,040

Penang Islamic Museum : RM 1 = Rp 2,820

Penang State Museum : RM 1 = Rp 2,820

Soya Milk : RM 1 = Rp 2,820

Sweet corn filled pancake @RM 0.60 : RM 1.2 = Rp 3,384

Strange Drink : RM 1 = Rp 2,820

Lunch big portion Biryani rice : RM 20 = Rp 56,400

Taxi to toy museum : RM 30 = Rp 84,600

Toy museum entrance fee : RM 20 = Rp 56,400

Rapid Penang from Toy museum to Komtar : RM 2 = Rp 5,640

Rapid Penang to Airport : RM 2.7 = Rp 7,614

Bus from Soekarno Hatta to Gambir Train St. : RP 20,000

Train ticket Jakarta – Yogyakarta : RP 230,000

TOTAL : Rp 3,286,360

Approximate Currency Rate : 1 MYR = Rp 2.820

1 THB = Rp 284

Note: The hotel rate shown is twin room rate divided by two.

- Y