Showing posts with label sepedamotor. Show all posts
Showing posts with label sepedamotor. Show all posts

Tuesday, November 29, 2016

Kawasaki D-Tracker

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan sepeda motor ini karena memang kapasitas mesin yang terbilang kecil, hanya 150cc (sebelumnya saya menggunakan Bajaj Pulsar 220) dan karena badan yang cukup ramping, berbanding terbalik dengan badan saya., terlebih lagi, harganya yang cukup fantastis, jika dibandingkan dengan harga baru Bajaj Pulsar saya dulu. 

Setelah sekian lama mencari-cari sepeda motor pengganti si Benji (Bajaj Pulsar saya dulu), browsing sana-sini, mampir ke dealer berbagai merek, saya mulai melirik motor ini karena ada salah satu informasi yang saya dapatkan yang menyatakan bahwa D-Tracker versi tahun 2016 akan mempunyai dimensi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan D-Tracker keluaran tahun-tahun sebelumnya. lingkar roda  juga bertambah besar dari ukuran 14" menjadi 17". Mesin juga mengalami sedikit, ya sedikiit perubahan dari versi lama untuk meningkatkan sedikit tenaga yang memang hanya sedikit. Hal lain yang membuat saya semakin ingin memiliki adalah karena motor ini menggunakan basis yang sama dengan  KLX yang membuat motor ini dapat digunakan di semua medan ditambah suspensi depan yang sudah Upside Down. Saya kembali teringat perjalanan saya di Gunung Salak dulu, dengan medan yang cukup parah dan membayangkan bagaimana jika saya kembali kesana dengan menggunakan motor ini. Hm...suatu hari saya akan kembali....


Satu yang menjadi kekurangan dari motor ini menurut saya, meskipun sudah bertambah panjang, namun karena secara alami, motor ini merupakan motor untuk 1 penumpang saja (tanpa pembonceng), jok terlalu pendek sehingga ketika istri saya membonceng akan terasa agak lebih sempit dibandingkan dengan si Benji, jok yang terlalu pendek ini juga semakin terasa pendek setelah saya memasang box belakang Shad 33 diatas braket custom. namuuuunnn, seperti pepatah mengatakan, nobody`s perfect, begitu pula dengan sepeda motor, pasti ada kekurangan dan kelebihannya, ya kan? ya kan? Buktinya, telah banyak tempat yang saya dan istri saya telah datangi dengan si Suki (nama D-Tracker 150 saya). Saya sementara ini berdomisili di Yogyakarta, dan bersama si Suki, saya dan istri sudah sampai ke Bandung+Jakarta, Bali via Jalur selatan Jatim, Tawangmangu dan masih banyak tempat lainnya.


Tidak banyak ubahan yang telah saya lakukan, terutama di bagian mesin, semuanya masih standard, hanya beberapa aksesoris tambahan yang berguna saja yang sudah terpasang. Hal pertama yang saya lakukan setelah motor tiba di tangan adalah memasang braket custom untuk dudukan box belakang dan box samping/panniers. Untuk pemakaian harian dalam kota, box ini selalu terpasang dengan cantiknya di belakang si Suki. Karena motor jenis ini tidak mempunyai bagasi, mempunyai ruang penyimpanan tahan cuaca yang dapat dikunci adalah hal yang penting karena dapat untuk menyimpan jas hujan, sarung tangan, masker dkk. Untuk perjalanan jauh, yang saya baru tahu belakangan, jika mengganti box Shad 33 dengan duffle bag anti air dari 7Gear akan jauh lebih nayaman karena selain daya tampung yang lebih besar dibandingkan dengan box saya, tas ini membuat pembonceng dapat duduk agak lebih lega karena tas dapat ditempatkan sedikit ke belakang. Untuk dudukan box samping sementara ini hanya saya gunakan untuk meletakkan side bag merek Rangaroo sebagai ruang penyimpanan tambahan. Selain itu saya juga memiliki tankbag seri Mondo dari 7Gear.


Ubahan lainnya yang saya lakukan adalah menambah busa pada jok karena jok bawaan terasa sangat tipis dan cepat membuat bokong panas. Menambah busa memang sedikit mengurangi rasa panas dan pegal, namun saya rasa masih kurang nyaman, terutama karena jok yang tidak begitu lebar. Mungkin nanti, sebelum saya melakukan perjalanan jauh lainnya saya akan mencoba mencari spesialis jok motor untuk memperlebar penampang jok agar lebih nyaman.

Kawasaki D-Tracker 150 versi baru ini dijual dengan 2 varian, varian standar dan varian Special Edition (SE). tidak ada perbedaan spesifikasi diantara kedua jenis ini, yang membedakan hanyalah aksesoris yang menempel, seperti adanya handguard, engine guard, frame guard dan setang model fatbar pada varian SE. Saya sebenarnya ingin membeli varian SE berwarna kuning hitam,namun, karena waktu inden yang cukup lama, plus motor lama sudah laku, saya membeli varian biasa dengan warna putih oranye. Karena tetap ingin memiliki varian SE, lalu saya membeli sendiri semua aksesoris varian SE dan memasangnya pada si Suki, jadilah SE versi KW.

Untuk perjalanan jauh, terutama jika ingin melewati rute baru yang belum pernah dilewati, saya membeli GPS waterproof sehingga untuk memastikan daya listrik GPS selalu penuh, saya memasang motorcycle USB charger. Selain untuk GPS, charger ini juga bisa digunakan untuk mengisi daya HP. Tahun 2012 saya membeli GPS waterproof 3,5" dari sebuah toko online, GPS ini tidak bermerek dan menggunakan peta gratis dari www.navigasi.net. Saya cukup nyaman menggunakan GPS ini pada awalnya, dan hampir tidak ada masalah sama sekali, namun karena sering memutakhirkan peta dan ukuran file peta versi baru menjadi semakin besar, GPS semakin lama semakin lemot atau bahkan gagal mencari rute sehingga saya tidak dapat menggunakan peta versi terbaru. Karena alasan tersebut, saya mencoba mencari informasi tentang GPS waterproof yang murah dan reliable. Pilihan saya akhirnya jatuh kepada Garmin Nuvi 200 yang memang dapat digunakan untuk mobil dan sepeda motor. Garmin sebenarnya juga menyediakan beberapa GPS handheld basic dengan harga yang lumayan terjangkau seperti etrex 20 maupun etrex 30, namun ukuran layarnya terlalu kecil.

Terakhir, untuk menghalau angin dan elemen-elemen lain saya juga memasang windshield dari Geba yang memang didesain khusus untuk Kawasaki KLX/D-Tracker. Cukup berkomunikasi lewat whatsapp, pilih jenis windshield yang akan dibeli, transfer uangnya dan barang siap dikirim sampai ke rumah. Cara memasangnya juga cukup mudah dan dapat dilakukan sendiri, walau memakan waktu yang cukup lama bagi saya untuk memasangnya sendiri.  

nb: Setelah handguard terpasang saya belum sempat foto lagi...

Saturday, February 20, 2016

Eastbound...Part 1

Perjalanan dengan sepeda motor kali ini adalah perjalanan dengan total jarak terjauh yang pernah saya dan istri saya tempuh. Perjalanan dimulai dari jalan Parangtritis di Yogyakarta menuju bali melalui jalur selatan pulau Jawa. Perjalanan ini memakan waktu selama 10 hari. Ya, memang sangat lama untuk perjalanan dengan jarak yang mungkin tidak terlalu jauh dan hanya satu kali jalan, bukan perjalanan pulang pergi, karena memang kita berhenti hampir di setiap kota besar yang dilewati.
 
Pantai Banyu Tibo
Tujuan lainnya adalah karena saya ingin mencoba mainan (baca: sepeda motor) baru saya yaitu Kawasaki d'tracker 2016) belum banyak ubahan yang saya lakukan terhadap sepeda motor ini, hanya menambahkan bracket custom untuk top box dan menambah busa jok yang aslinya menurut saya sangat tipis, selain itu semuanya masih sutandar..darr..  

Pantai Banyu Tibo

Hari pertama kami berhenti di kota Pacitan setelah sebelumnya kami mengunjungi pantai Banyu Tibo, pantai Mbuyutan dan pantai Srau. Jika dari arah Yogyakarta menuju ke pantai -pantai tersebut tidaklah susah. Tinggal ikuti petunjuk di sepanjang jalan. Untuk pantai Banyu Tibo dikenakan biaya masuk 5000 rupiah per orang dan biaya parkir 2000 rupiah. Penampakan pantai Banyu Tibo ternyata tidak seindah yang digembar-gemborkan. Banyaknya warung di pinggirnya cukup mengganggu pemandangan. Lagi pula kita tidak bisa bermain pasir karena ombaknya cukup kencang dan pantainya berada di dasar tebing.
 
Pantai Mbuyutan
Setelah berfoto secukupnya, kami melanjutkan perjalanan ke pantai Mbuyutan. Dari pantai Banyu Tibo ke pantai Mbuyutan memakan waktu 1 jam melalui jalanan yang aspalnya sudah terkelupas di sana sini. Perjalanan ke pantai Mbuyutan diakhiri dengan menuruni jalan beton yg cukup curam. Pemandangan di pantai Mbuyutan merupakan yang terbaik di antara 3 pantai yang kami kunjungi hari ini. Garis pantainya yang panjang dilengkapi dengan deburan ombak yang cukup tenang dan pasirnya yang putih. Saat kami berkunjung, tidak banyak orang di pantai ini. Sungguh serasa pantai pribadi. He3. Di pantai ini tidak perlu membayar retribusi, bahkan uang parkir. Beberapa warung menjajakan menu nasi goreng, mie instan dan aneka minuman dengan harga terjangkau.
 
Pantai Srau
Setelah dirasa cukup kami melanjutkan perjalanan ke pantai Srau. Jalan menuju panrai Srau cukup mudah. Dari pantai Mbuyutan ke pantai Srau hanya memakan waktu 30 menit. Kawasan pantai srau paling tertata di antara 3 pantai yg lain. Pedagang sudah ditempatkan pada bangunan permanen dan terdapat Mushola dan kamar mandi umum di area ini. Garis pantai Srau juga panjang dan pasirnya juga putih walaupun tidak seputih pantai Mbuyutan. Karena sudah sore suasana di pantai Srau cukup ramai.

Perjalanan kemudian kami lanjutkan menuju penginapan, karena belum melakukan booking sebelumnya, kami sempat berhenti sejenak di sebuah masjid untuk istirahat, sholat dan mencari tempat menginap. Hanya ada beberapa penginapan di pusat kota yang sesuai dan karena hari sudah semakin gelap kami memutuskan untuk menginap di Hotel Pacitan. Hotel ini terletak di jalur utama di seberang alun-alun kota Pacitan.
Hari kedua kami berniat mencari sarapan di sekitar alun-alun, namun, mungkin karena masih terlalu pagi, kami tidak melihat ada penjual sarapan yang buka dan kami memutuskan untuk kembali ke hotel dan bersiap melanjutkan perjalanan. Tujuan kami di hari kedua ini adalah kota Trenggalek. Kami berencana lewat jalur selatan karena penasaran dengan Pantai Soge yang dapat dilihat dari jalur selatan Pacitan. Sebelum sampai Pantai Soge, kami mampir dulu sarapan di warung mie ayam. Setelah selesai sarapan, gerimis mulai turun dan kami pun bergegas untuk segera melanjutkan perjalanan.
 
Makan mie ayam
Jalan lintas selatan yang menghubungkan Pacitan dengan kota Trenggalek terbilang cukup mulus, namun banyak tanjakan yang cukup curam yang cukup membuat si Suki (motor saya) kewalahan, apalagi setelah melewati JLS dan kembali ke jalur utama Pacitan-Trenggalek. Di tengah perjalanan hujan pun turun sehingga kami pun harus berteduh sebentar. Sebenarnya, pada saat itu kami membawa jas hujan, namun karena kami malas memakai dan juga membereskannya lagi, kami enggan memakainya. Setelah hujan berhenti dan berganti gerimis kecil kami pun melanjutkan perjalanan. Karena pada hari itu adalah hari Jumat, saya pun berhenti sejenak untuk menunaikan sholat Jumat, namun setelah selesai sholat, hujan turun dengan derasnya dan karena kami masih malas mengenakan jas hujan, kami pun berniat menunggu hingga hujan reda.

Setelah menunggu cukup lama, bersama dengan jamaah yang lain, hujan belum juga reda dan pada akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jas hujan setelah mendapatkan informasi bahwa kota Trenggalek tidak jauh lagi.
Rencananya, kami akan mengunjungi hutan mangrove di pantai Cengkrong, namun jika melihat dari gmaps maupun gps yang saya punya, dari arah sebelum kota Trenggalek dari arah Pacitan, tidak ada jalan yang cukup pasti untuk sampai ke sana tanpa melewati pantai Prigi, yang jalurnya berada di sebelah timur kota Trenggalek, kami pun membatalkan rencana tersebut dan langsung menuju kota Trenggalek.
 
Berteduh antara Pacitan-Trenggalek
Di tengah hujan lebat, sampailah kami di kota Trenggalek dan kami mampir sejenak ke pom bensin untuk mengisi bensin sekaligus mencari hotel yang tersedia. Dari review yang ada dan juga faktor harga, kami memutuskan untuk menginap di hotel Widowati. Hotel yang kami tempati cukup nyaman, kami memilih kamar dengan AC dan air panas karena AC akan kami gunakan untuk mengeringkan riding gear dan pakaian kami yang istri saya cuci dan air panas karena kami ingin menghangatkan diri setelah kehujanan dan karena di hotel di Pacitan kami memilih hotel yang tidak menyediakan air panas.

Hari sudah sore sewaktu kami tiba di hotel dan karena hujan di sepanjang perjalanan, kami tidak sempat makan siang, kami memesan makan di hotel tersebut dan beristirahat sambil menunggu hujan reda. Hujan pun tak kunjung reda, kami memutuskan untuk memesan makan malam dari hotel dan tetap tinggal di kamar hingga pagi tiba. Setelah mandi pagi kami pergi ke lobi untuk sarapan dan segera bersiap-siap untuk menuju ke kota berikutnya.

Blitar, itu adalah kota tujuan kami selanjutnya, jaraknya tidak begitu jauh dari Trenggalek dan siang hari, kami pun sudah tiba di Blitar. Sebelumnya kami sempat browsing dan memilih-milih hotel mana yang akan kami tempati selama di Blitar, agar tidak salah pilih seperti hotel kami di Pacitan. Akhirnya, pilihan jatuh kepada hotel Patria Garden. Kami tidak melakukan reservasi terlebih dahulu di hotel itu namun memutuskan untuk go show. Alhamdulillah masih ada kamar tersedia, walaupun jenis kamar yang kami inginkan sudah habis karena menjelang hari raya Imlek namun selama perjalanan, Hotel di Blitar inilah yang menurut kami berdua paling baik value for money-nya.
 
Salah satu ruangan di Istana Gebang
Setelah sholat dan menurunkan barang bawaan, kami menuju rumah masa kecil Presiden pertama RI atau disebut juga dengan Istana Gebang. Sebenarnya tidak ada maksud khusus, namun kami hanya penasaran. Alasan lainnya adalah jika kami sudah sampai Blitar akan terasa aneh jika kami tidak mendatangi tempat yang berhubungan dengan Presiden pertama RI tersebut.

kami memutuskan untuk mencari makan siang setelah dari Istana Gebang dan setelah melakukan riset singkat, pilihan jatuh kepada soto Bok Ireng yang katanya cukup terkenal di Blitar. Porsinya cukup kecil namun rasanya menurut saya pribadi cukup enak, hanya istri saya yang tidak begitu suka dengan rasanya.
 
Soto Bok Ireng
Tujuan selanjutnya adalah Tempat yang kami tuju berikutnya adalah candi Penataran yang sering disebut di pelajaran sejarah. Tidak ada alasan khusus juga mengapa kami mendatangi candi ini, hanya karena sering disebut di pelajaran sejarah dulu maka kami penasaran terhadap candi tersebut. Setelah dari candi Penataran, tidak ada agenda lainnya, kami hanya mampir ke toko serba ada di kota Blitar untuk membeli makanan kecil, minuman dan detergen setelah itu kami pulang kembali ke hotel.

Setelah menunaikan sholat Maghrib, kami pun kembali keluar untuk mencari makan malam, sebenarnya kami mencari nasi jagung ampok yang terkenal di Blitar, namun karena tidak menemukannya, kami pun membeli ayam goreng di depan toko pakaian Apollo di Blitar, setelah itu, kami kembali ke hotel untuk beristirahat...
Komplek Candi Penataran