Showing posts with label suzuki. Show all posts
Showing posts with label suzuki. Show all posts

Monday, November 28, 2016

Ke Bima..day 6

Diorama di Jatim Park 1
Hari ke-6...saatnya mencoba pemanas air yang hari kemarin baru saja kami beli. Tidak tanggung-tanggung, pemanas air yang berkapasitas tidak sampai satu liter tersebut akan kami gunakan untuk memasak air untuk mandi. Percobaan pertama berhasil, air berhasil menjadi panas dan saya mempersilakan istri saya untuk mandi terlebih dahulu dan saya akan kembali memasak air untuk saya sendiri. Di kamar hotel tersebut, tidak tersedia banyak outlet listrik, sehingga kami agak kesulitan sewaktu memasak air tersebut dan karena itu pula kami harus meletakkan pemanas air tersebut di atas kasur. Sebelum istri saya mandi, saya sempat mengambil air dari kamar mandi untuk dimasak, sambil saya membayangkan enaknya mandi menggunakan air hangat di pagi yang cukup sejuk itu. Sambil menunggu air masak, saya membuka-buka hp dan sebentar-sebentar melirik ke arah pemanas air tersebut. Setelah istri saya hampir selesai mandi dan saya telah selesai membuka-buka hp, saya kembali melirik ke arah pemanas air tadi dan saya melihat ada sesuatu yang aneh dari pemanas air itu. Aneh karena airnya tidak mengeluarkan gelembung-gelembung kecil seperti tadi dan saya dekatkan tangan ke atas permukaan air tersebut dan ternyata airnya masih saja dingin. Tidak mau ambil resiko tersengat aliran listrik, saya mencabut pemanas air dari stop kontaknya dan memasukkan jari ke dalam air, dingin, itu yang saya rasakan. Saya coba membetulkan sambungan kabel yang menancap di alat itu dan memindah colokan listriknya ke outlet yang lain, namun hasilnya sama saja, air tetap dingin. Saya belum mau mengakui jika alat yang baru terpakai sekali itu rusak, sehingga saya tetap mencoba memanaskan air sementara saya mandi menggunakan air dingin. Setelah mandi saya kembali mengecek airnya dan tetap saja..dingin.. Ya sudah, akhirnya saya mengalah dan mengakui bahwa alat itu rusak, busted, tidak bisa dipakai dan menerima kenyataan bahwa kami akan tetap mandi air dingin pada mandi-mandi berikutnya di hotel ini. Pemanas air itu, walaupun sudah rusak, anehnya tidak kami buang, dan masih tersimpan rapi di dalam box plastik yang kamu bawa selama perjalanan.

Setelah selesai urusan permandian, saatnya menghibur diri dengan mencari sarapan yang agak berbau ayam. Ya, pilihannya tentu saja jatuh kepada restoran ayam goreng cepat saji yang paling jago. Yup, tidak jauh dari hotel memang terdapat restoran itu dan kami hanya perlu berjalan kaki saja sebentar. Pulang dari makan ayam goreng, kami sempat mencari toko alat listrik untuk membeli colokan listrik tambahan atau rol kabel untuk tambahan colokan di kamar hotel yang hanya sedikit. untuk menghemat uang jajan,kami memilih rol kabel yang termurah. Kami membutuhkan banyak colokan listrik karena memang gadget yang harus kami charge cukup banyak. Pada perjalanan ini kami membawa:

1. HP masing-masing 1 buah = 2 buah
2. HP sebagai secondary GPS = 1 buah
3. Kamera digital = 1 buah
4. Action Cam = 1 buah
5. GPS = 1 buah (memang dapat diisi daya di mobil namun sering saya lepas untuk menentukan rute     dan membuat waypoint)
6. Tablet (bukan obat) untuk browsing tujuan dan memesan penginapan = 1 buah

Kami sebenarnya juga telah melengkapi si Blue dengan power inverter yang dapat mengubah listrik dari lighter mobil menjadi listrik AC 220V, namun pada prakteknya di perjalanan, jarang sekali kami mengisi daya semua gadget kami di mobil, paling hanya HP/tablet saja.
Lion and lioness of Jatim Park I
Hari itu tujuan kami adalah kembali ke Batu untuk mengunjungi Museum Angkut dan Jatim Park 1, kami berdua sama-sama belum pernah mengunjunginya, jadi alasan kami kesana adalah karena rasa penasaran. Setelah selesai membeli rol kabel, kami bersiap-siap dan segera melaju kembali ke Batu setelah acara halal bihalal di kantor Bupati (kalau tidak salah ingat) di depan hotel selesai karena selama acara itu berlangsung, jalanan di depan hotel ditutup. Seteleh GPS menunjukan bahwa Museum Angkut berada tidak jauh lagi, kami terkejut karena antrian mobil yang akan menuju ke Museum Angkut sangatlah ramai, hingga mengular naga panjangnya bukan kepalang. Namun, karena tekad sudah bulat, kamipun ikut mengantri dan bersabar karena memang tempatnya masih belum buka. Setelah mengantri cukup lama, kami entah bagaimana mendapat parkir bukan di halaman parkir resmi Museum Angkut, melainkan di semacam tanah lapang di sebelah komplek museum. Ya, tidak apa-apalah, walau saya tahu ongkos parkirnya pasti jauuuuh lebih mahal.

Setelah turun dari mobil, kami ikut mengantri karcis dan ternyata antrian manusia yang akan membeli
karcis juga sangat panjang, sangaaaatttt panjaaaang. Namun sekali lagi, karena tekad sudah bulat ya kami tetap ikut mengantri. Akhirnya tiba giliran kami sampai di depan loket dan berhasil membeli tiket. Kami menuju ke pintu masuk dan tiba di ruangan yang sangat besar yang berisikan koleksi sepeda motor dan mobil kuno yang cukup banyak. Kami pikir, inilah ruang pamer utama museum ini dan hanya sebentar saja pasti akan selesai berkeliling. Namun dugaan kami salah besar karena kompleknya sangat besar dan terbagi menjadi berbagai macam tema seperti Hollywood, untuk kendaraan-kendaraan dari Amerika dan negara Inggris, untuk kendaraan-kendaraan yang berasal dari Inggris dan kami memerlukan waktu hampir tiga jam untuk menyelesaikannya. 

Replika karapan sapi kalo gak salah...
Setelah puas (dan lelah) berkeliling di Museum Angkut, kami lalu menuju ke semacam pameran kesenian atau kebudayaan yang berada di komplek museum. Pameran tersebut berisikan barang-barang yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia seperti topeng dan senjata-senjata kuno, setelah itu kami mampir ke semacam arena kuliner bertema Venice yang masih juga berada di lingkungan museum, kami sempat makan sebangsa siomay atau batagor untuk mengganjal perut dan menyudahi kunjungan ke Museum Angkut kali itu. Untuk kunjungan kami ke Museum Angkut ini saya tidak bisa menjelaskan terlalu detail karena selain kejadiannya sudah lebih dari setahun yang lalu, file-file foto khusus Museum Angkut ini hilang, raib, gone with wind, musnah entah kemana, padahal foto-foto perjalanan sebelumnya dan setelah Museum Angkut ini ada. Bahkan foto-foto di Jatim Park I, yang masih satu hari dengan Museum Angkut masih ada, aneh.

Hari sudah agak sore ketika kami sampai di Jatim Park 1, bahkan kami termasuk rombongan terakhir yang masuk ke Jatim Park 1. Isi dari Jatim Park 1 ini mirip TMII menurut saya, kebanyakan berisikan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Permainan anak juga tersedia disini, namun jumlahnya sedikit, inti dari Jatim Park I ini mungkin untuk menambah wawasan mengenai Indonesia, jadi yang diutamakan adalah isinya. Kalau seperti kata orang akuntansi itu substance over form, lebih mementingkan isi daripada bentuk. Tidak sempat banyak berhenti dan mengambil foto karena memang tempatnya sudah akan tutup, kami melaju menuju pintu keluar dan langsung kembali menuju Malang. Sebelumnya untuk mengganjal perut (lagi) dan sekalian makan malam, kami makan di Hot CMM sambil menunggu kepadatan kendaraan yang turun dari Batu ke Malang berkurang. Setelah selesai makan kami kembali ke hotel, untuk beristirahat, sepertinya tidak mandi karena udara dingin dan thanks to broken water boiler, kemudian packing karena besok, sanak saudara dari Istri yang akan menuju ke Jember akan tiba di Malang untuk menginap semalam dan kami harus check out dari hotel Santosa..ZzZzZz
Peta Jatim Park I


Thursday, November 24, 2016

Ke Bima..day 3

Pada postingan sebelumnya saya telah menceritakan tentang bagaimana berubah-ubahnya rencana kami saat itu, karena memang ya tidak ada sesuatu yang pasti dalam sebuah road trip, touring maupun backpacking, semua rencana dapat berubah seketika karena banyak hal. Tapi perubahan rencana tersebut bukanlah sesuatu yang buruk, itu adalah bagian dari perjalanan yang harus kita hadapi. Selalu berpikiran positif itu salah satu kuncinya, jika kita tidak dapat mencapai tempat yang direncanakan, itu bukan masalah, karena prinsip saya, seperti banyak qoutes tentang travelling, adalah the destination is not that important, the journey is. Intinya adalah sebisa mungkin fokus kepada perjalanan, nikmatilah perjalanannya, jika bisa mencapai tujuan, well, that`s the bonus.

Berikut ini akan saya tampilkan rute perjalanan berangkat dari Yogyakarta, Tuban, hotel Cerah di Paiton, kembali ke Pasuruan, Malang, Probolinggo, Jember, Singaraja, Lombok, Bima.


Pada hari ketiga perjalanan, kegalauan dimulai. Pada hari ini kami mulai bimbang apakah tetap akan melanjutkan perjalanan menyeberang ke Bali atau berputar-putar dulu di Jawa Timur selama kurang lebih seminggu agar dapat menghadiri pernikahan di Jember, baru kemudian menyeberang ke Bali. Ada juga alternatif lain yang sempat kami pikirkan saat itu, namun akan sangat tidak efektif dan efisien, yaitu kami menyeberang ke Bali dan Lombok mungkin pada hari itu, stay selama kurang lebih seminggu, kemudian baru menuju ke Jember dan dilanjutkan dengan pulang ke Yogyakarta.

Namun akhirnya, setelah dibicarakan dengan saksama, diputuskan bahwa, menghadiri pernikahan dulu sebelum ke Bali adalah pilihan yang tepat, karena memang kami juga belum pernah berkeliling Jawa Timur bagian timur dan selatan. Hal lain yang membuat kami mengubah rencana adalah pada pagi itu, kami dihubungi oleh sepupu kami bahwa dia sedang berada di penginapan di RM. Tengger di Pasuruan. Kamipun dengan segera memutuskan untuk segera menuju ke arah Pasuruan dan memintakan sepupu kami untuk mencarikan kamar dan Alhamdulillah, masih ada kamar kosong. Rencana kami seketika berubah menjadi kembali ke arah Pasuruan, menginap disana selama satu malam dan kemudian menuju ke Malang, dimana saudara dari istri berkumpul untuk bersama-sama menuju ke Jember.

Jalanan di Sumbawa
Setelah check out dari hotel Cerah, kembalilah kami menuju ke arah barat untuk sampai ke RM Tengger di kota Pasuruan yang jaraknya tidak begitu jauh. Sebelum tengah hari kami telah sampai dan beristirahat sebentar. Sore harinya kami keluar mencari makanan kecil untuk di penginapan dan tali jemuran kacil untuk kami pasang di mobil. Dalam perjalanan ini kami memang sudah bersiap membawa deterjen dan ember lipat untuk mencuci pakaian in case di penginapan tidak tersedia jasa cuci mencuci atau karena kami memang hanya transit semalam dan menggunakan jasa laundry di penginapan tidak memungkinkan. Setelah semua didapat, kami kembali ke penginapan, untuk mandi dan beristirahat dan memesan makan malam dari rumah makan penginapan.....


Ke Bima..day 2

Setelah sekitar pukul 5 sore kami sampai di rumah saudara di kota Tuban, kami lanjutkan dengan bertemu saudara-saudara lainnya untuk saling bermaaf-maafan dan kemudian beristirahat. Keesokan harinya, yaitu hari kedua lebaran di tahun 2015, setelah bersama-sama ziarah ke makan kakek dan makam-makam lainnya, kamipun berencana untuk langsung menuju pulau Bali karena orang tua juga sudah harus berangkat ke Jakarta bersama dengan saudara kembar saya pada siang itu. Rencana yang telah kami tetapkan saat itu, karena libur kami terbatas dan kami ingin mencapai titik terjauh yang kami bisa adalah dengan melewatkan pernikahan sepupu istri saya dan lanjut menuju pulau Bali saat itu juga. Maka setelah sholat Dhuhur, berangkatlah kami menuju timur pulau Jawa dengan melewati jalur pantai utara Jawa Timur, jadi kami tidak mengambil jalur utama Tuban-Surabaya melewati kota Babat, namun melewati tepi pantai utara Jawa Timur sampai dengan lokasi Wisata Bahari Lamongan (WBL), terus melewati tol di kota Gresik, tol Surabaya-Gempol, Sidoarjo dan keluar di sekitar kota Bangil.

Menuju pelabuhan Kayangan di Lombok
Hari sudah semakin sore ketika kami mencapai Bangil, dan pada saat itu, niatan untuk harus sampai ke Bali masih sangat besar, jadi dengan meningkatkan kecepatan si Blue, kami terus melaju ke arah timur menuju Banyuwangi. Di sekitar kota Probolinggo, kami istirahat sejenak untuk sholat Ashar, pada saat itu sudah sekitar pukul 5 sore dan niat untuk langsung menuju ke Bali sudah tidak sebesar tadi, karena selain perjalanan masih cukup jauh, saya juga tidak berani menyeberang ke Bali malam hari. Sampai saat itu, kami masih berpegang pada rencana untuk melewatkan pernikahan sepupu istri saya di Jember dan jika kami tidak dapat menyeberang ke Bali malam itu, kami tetap akan menyeberang keesokan harinya setelah menginap semalam.

Perjalanan kami lanjutkan kembali setelah sholat Ashar dan hari sudah sangat gelap ketika kami memasuki daerah Paiton. Karena badan juga sudah lelah dan takut untuk menyeberang pada malam hari, makan kami putuskan untuk mencari penginapan dan mengakhiri hari itu. Tidak banyak pilihan penginapan di daerah tersebut, namun kami berhasil menemukan satu penginapan yang lumayan bersih dan terjangkau, yaitu Hotel Cerah di daerah Paiton, yang berlokasi di belakang toko besi Cerah. Lagi-lagi tidak banyak foto yang kami ambil saat itu karena memang jalurnya sudah pernah kami lewati sebelumnya dan memang kami tidak banyak berhenti untuk mengejar waktu. Sampai hari ini, kami masih berpegang pada rencana untuk melewatkan pernikahan sepupu istri dan melaju sejauh mungkin ke timur.
Menuju ke Pink Beach, Lombok

Rencana perjalanan kami kali ini sudah banyak sekali berubah sejak pertama kali kami membicarakannya. Awalnya kami akan melakukan perjalanan ini dengan menggunakan sepeda motor dan hanya akan sampai ke Larantuka saja, namun karena libur yang terbatas dan kami harus menghadiri pernikahan sepupu istri saya di Jember, kami putuskan untuk memajukan jadwal keberangkatan dan mengganti kendaraan dengan menggunakan mobil, karena akan sangat membuang waktu jika kami ke Jember menggunakan mobil, kemudian kembali lagi ke Yogyakarta dan kembali menuju timur dengan menggunakan sepeda motor. Karena jadwal keberangkatan kami dimajukan, maka kami berpikir mungkin kami dapat pergi lebih jauh lagi ke Timur, maka kamipun berencana, jika memungkinkan akan mencoba ke pulau Timor, yaitu Kupang, Atambua dan mungkin menyeberang ke negara tetangga. Kami sudah mencari-cari informasi, rute, penginapan, dan bahkan sudah menghubungi kolega saya di KBRI negara tetangga untuk mencari informasi mengenai kemungkinan mengendarai kendaraan yang teregistrasi di Indonesia ke sana.

Namun, hal tersebut pada akhirnya tidak dapat terlaksana juga karena ternyata jadwal masuk kuliah kembali istri saya berubah menjadi lebih cepat dan jadwal yang telah kami susun kembali berantakan. Kami sempat berpikiran untuk tidak jadi menghadiri pernikahan sepupu istri saya di Jember dan tetap pada rencana awal, namun setelah kami pikir-pikir kembali, bertemu dan berkumpul bersama sanak saudara jauh lebih penting dan perjalanan ke timur, akan tetap dilakukan, namun tidak ditetapkan target tertentu, hanya mengendarai mobil ke arah timur sampai waktu libur habis dan kembali lagi ke Yogyakarta..Sungguh memang benar perkataan "Manusia berencana, Tuhan yang menentukan" itu....

Wednesday, November 23, 2016

Ke Bima...day 1

Perjalanan kali ini merupakan perjalanan yang sebenarnya tidak sesuai dengan rencana kami (saya dan istri) karena jadwal libur yang berubah dan keterbatasan waktu yang kami punya. Rencana awalnya adalah kami akan pergi ke Larantuka menggunakan sepeda motor, namun karena tepat seminggu setelah lebaran sepupu dari istri saya menikah di kota Jember, maka kami sepakat untuk pergi menggunakan mobil saja karena jika harus datang ke pernikahan di luar kota menggunakan sepeda motor sangatlah tidak nyaman dan praktis. Walaupun pernikahannya masih seminggu setelah lebaran, namun kami berangkat meninggalkan kota Yogyakarta pada hari pertama lebaran karena setelah Sholat Idul Fitri bersama keluarga dari istri saya, kami harus pergi ke kota Tuban untuk bertemu dengan orang tua saya yang hari sebelumnya telah berangkat ke Tuban untuk merayakan lebaran disana. Kami sempat mempunyai rencana untuk tidak jadi datang ke acara pernikahan sepupu istri saya dan langsung melanjutkan perjalanan ke timur, namun dengan berbagai pertimbangan, akhirnya kami tetap pergi ke Jember walaupun sebelum itu kami sempat menginap di Bondowoso, Pasuruan dan Malang terlebih dahulu...

Somewhere diantara Sumbawa Besar dan Dompu
Kami berangkat sekitar pukul 10 atau 11 siang dari rumah mertua saya di jalan Parangtritis Yogyakarta, melewati Kotagede, Gedong Kuning dan akhirnya sampai ke jalan Solo. Perjalanan kali itu tidak langsung menuju ke Tuban, yang berada di pantai utara Jawa Timur, namun harus mengantar ibu mertua saya ke Solo dulu, baru setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Tuban. Jalanan relatif lancar pada siang itu, mungkin karena masih banyak orang yang berkumpul bersama dengan keluarganya. sekitar pukul 1 siang kami sampai ke kota Solo dan mampir sebentar, bersalam-salaman dengan keluarga di Solo dan melanjutkan perjalanan. Dari kota solo kami mengikuti jalur utama menuju kota sragen, ngawi dan kemudian berbelok ke arah utara menuju kota Bojonegoro. Di sekitar wilayah Padangan kami sempat beristirahat sejenak untuk sholat jama` Dhuhur dan Ashar. Jalanan menuju arah Bojonegoro dari Ngawi sudah relatif mulus dan hanya sedikit kendaraan yang lewat jadi kami bisa memacu si Blue lebih cepat dan pada sekitar pukul 5 kami sudah sampai di jalan WR Supratman di kota Tuban....

Dashboard Suzuki Karimun Wagon R
Pada perjalanan kali ini kami menggunakan mobil kecil yang punya tagline SMART dari pabrikan berlambang huruf "S" yang saat itu baru berumur sekitar 6 bulan. Mobil LCGC (Low Cost Green Car) ini adalah mobil pertama kami yang benar-benar masih standar untuk mesinnya. Keputusan kami membeli mobil merek ini dibanding merek yang lain adalah karena saya sudah sangat mengenal merek ini. Bayangkan saja, orang tua saya sudah mempunyai 3 jenis mobil dari merek ini selama 10 tahun tanpa pernah ada masalah berarti ditambah dulu juga pernah merasakan Suzuki Sidekick lama milik saudara selama beberapa bulan. Jadi, tidak ada alasan untuk tidak membeli si Blue ini. Alasan lain adalah dengan harga yang cukup rendah dibandingkan dengan merek lain, kami dapat fitur standar yang lumayan, versi GL dengan audio single DIN, AC, power steering, central lock, power window (walau hanya untuk jendela depan), immobilizer, seatbelt untuk kelima penumpang, roofrail, dan kabin yang menurut saya lumayan lega dibandingkan dengan merek lain karena bentuknya yang cenderung kotak sehingga ruang di atas kepala juga cukup tinggi. Tidak banyak ubahan yang saya lakukan, saya hanya mengganti ban bawaan dengan diameter yang lebih besar yaitu R14, mengganti lampu depan dengan Osram NBR, menambahkan third brake light variasi, menambahkan Balance Sport Damper di semua kaki-kaki, memasang alarm, kaca film Solar Gard dan memasang sarung jok variasi.