Sunday, June 28, 2020

This is Africa 1

Jacaranda di sudut Kota Harare
Jacaranda di sudut kota Harare

Pada bulan November 2018, saya harus berpindah tempat tugas ke sebuah negara di Benua Afrika. Pekerjaan saya sekarang mengharuskan saya dan istri untuk pindah sementara dari Indonesia ke benua itu selama kurang lebih 2 tahun yang kemudian jika semua berjalan sesuai dengan rencana kami akan langsung pindah lagi ke Laos selama 2 tahun lagi dan baru kembali ke Indonesia. Ada banyak cerita dan alasan bagaimana akhirnya saya bisa terpilih atau lebih tepatnya memilih untuk tinggal di Benua Afrika tapi, apapun alasan dan ceritanya, bagi saya dan istri, ke Benua Hitam ini adalah another chapter of adventure walaupun kami sama sekali mengendarai sepeda motor seperti yang sering kami lakukan di Indonesia tapi, to see different culture, people, language and try to live with them adalah salah satu anugerah dan pemberian dari Tuhan yang sungguh rruuuarrrr biaasaa….Alhamdulillah… Tulisan ini saya buat kurang lebih 3 bulan sebelum saya harus pindah lagi ke Negara lainnya untuk tinggal dan bekerja salama 2 tahun jika semua berjalan sesuai rencana.

Negara itu dinamakan Zimbabwe yang berada di Benua Afrika bagian selatan, tepat berbatasan langsung dengan Afrika Selatan di sebelah selatannya., Negara Zambia di sebelah utaranya, Mozambique di sebelah timur dan di sebelah baratnya ada Negara Botswana. Nama nama Negara yang mungkin cukup kurang didengan oleh kita semua. Banyak hal yang dapat diceritakan di Negara ini mulai dari politik, ekonomi, sosial budaya dan masih banyak hal lainnya, namun saya tidak akan membahas hal-hal itu karena saya akan membahas mengenai tempat-tempat mana saja yang pernah saya kunjungi untuk saya bagi kepada anda.

Mungkin banyak dari anda yang sering dengar nama Zimbabwe namun ya hanya mendengar saja, seperti saya dulu. Dulu sewaktu sekolah nama Zimbabwe sering digunakan sebagai semacam ejekan untuk mengtakan bahwa sesuatu atau seseorang itu berasal dari tempat yang jauh atau kuno. Ya, itu juga sebagai salah satu alasan mengapa saya memilih untuk tinggal disini.

Harare, adalah ibukota Negara ini dimana saya tinggal, saya tinggal di apartemen berlantai 6 di daerah agak pinggir kota yang berada tepat di depan rumah dinas presiden. Hampir seluruh bangunan yang ada di kota ini merupakan bangunan yang sudah cukup lama karena dibangun sewaktu masa penjajahan Inggris, termasuk apartemen yang saya tinggali. Hampir tidak ada bangunan baru yang dibangun di negara ini karena berbagai macam alasan. Namun bangunan yang telah berumur ini menurut saya member kesan tersendiri mengenai kota ini, jadi terlihat lebih authentic menurut saya.

Victoria Falls, adalah air terjun terbesar di dunia yang kebetulan berada di antara 2 negara yaitu Zimbabwe dan Zambia, jadi masing-masing Negara membuka tempat wisata untuk dapat melihat air terjun ini. Saya belum pernah melihat Victoria Falls dari sisi Zambia, namun menurut saya dari sisi Zimbabwe sudah sangat sangat terlihat kemegahannya. Dari sisi Zimbabwe terdapat lebih dari 10 viewpoints yang disediakan, anda bisa memilih viewpoints mana yang akan dijadikan latar belakang foto anda. Saya sudah 3 kali mengunjungi air terjun ini dan tidak ada kata bosan karena ya memang pemandangannya yang luar biasa indah, perjalanan menuju kesini dari Harare jika dilakukan dengan perjalanan darat juga sangat menarik dan ini merupakan salah satu tempat yang wajib dikunjungi paling tidak sekali seumur hidup jika anda memang menggemari keindahan alam.

Jacaranda di Harare

Victoria Falls terletak agak jauh dari ibukota Negara, diperlukan waktu tempuh lebih dari 12 jam dengan kendaraan pribadi dengan jarak dari ibukota kurang lebih 800an Km. Tiga kali saya kesana, semuanya dengan kendaraan pribadi, dua kali dengan menginap dulu di tengah perjalanan, yaitu di kota Bulawayo, dan satu kali kami mencoba langsung menuju kesana tanpa menginap dan bermalam di jalan.

Suasana di Victoria Falls hampir seperti Bali di Indonesia, karena tempatnya yang sangat touristy, banyak tempat makan, penginapan yang disediakan khusus untuk para wisatawan menurut saya sangat berbeda dengan suasana  Zimbabwe pada umumnya di luar Victoria Falls yang nampak tidak semegah dan segemerlap Vicfalls.

Sebenarnya ada cara lain untuk pergi ke Vicfalls, yaitu dengan menumpang pesawat terbang dari Harare, namun kami tidak memilih opsi itu karena selain menghemat biaya kami lebih senang melakukan perjalanan darat karena kami bisa melihat berbagai pemandangan yang ada, pemandangan kota-kota kecil sepanjang jalan menuju Bulawayo, atau pedesaan dan ladang-ladang milik warga serta rumah adat mereka yang masih banyak tersebar di pinggir jalan.

Masih banyak tempat-tempat indah lainnya yang kami telah kunjungi di Negara ini, yang akan saya tulis di post selanjutnya.

Pelangi di Vicfalls

Friday, March 16, 2018

ANTARA KAMI DAN KELIMUTU part 2


Hari 1, Jakarta – Banyuwangi

Kami berangkat dari Jakarta menggunakan pesawat. Motor sudah saya kirim 3 hari sebelumnya menggunakan Herona. Saya ingat hari itu adalah malam imlek dan Jakarta diguyur hujan lebat hingga banjir dan macet dimana-mana. Sempat khawatir akan tertinggal pesawat, namun kami berhasil sampai bandara Soekarno Hatta 10 menit sebelum pesawat take off. Ternyata kami masih diijinkan check in dan banyak pesawat yang mengalami delay karena alasan cuaca termasuk penerbangan kami. Setelah tertunda selama hampir 4 jam akhirnya kami berangkat dan mendarat dengan selamat di Banyuwangi yang panas, hahaha……….dengan taksi, kami menuju Latansa homestay di utara kota Banyuwangi dan beristirahat. Untuk makan malam kami membeli nasi tempong Mbok Nah, makanan yang selalu kami cari jika datang ke Banyuwangi.


Hari 2, Banyuwangi – Lombok

SIap-siap unpacking motor
Pagi itu diawali dengan mengambil motor di kantor Herona Stasiun Banyuwangi Baru. Pengambilan motor bisa dilayani kapan saja karena ada petugas yang menginap di kantor tesebut. Untuk mengambil motor dan membeli bensin kami meminjam motor Latansa Homestay karena jarak pom bensin yang bersedia melayani pembelian dengan botol terletak jauh dari Homestay dan sepanjang jalan menuju stasiun kami tidak menemukan pedagang bensin eceran. Sambil menunggu proses unpacking, istri membeli sarapan nasi bungkus di stasiun. Harganya murah sekali untuk porsi yang cukup besar. Kembali ke homestay, kami segera memasang side bag, tail bag dan tank bag. Setelah selesai kami segera menuju pelabuhan Ketapang. 

Penyeberangan ke Pulau Bali memakan waktu selama 1 jam dengan biaya 24.000. Begitu berlabuh di Gilimanuk, saya segera memacu motor melintasi Pulau Bali menuju pelabuhan Padang Bai. Hanya berhenti untuk makan siang di sekitar kota Tabanan, total waktu yang diperlukan adalah 5 jam untuk melintasi pulau Bali. Kami sempat menunggu selama 45 menit sebelum bisa naik ke kapal yang
Mengantri di Pelabuhan Padang Bai
membawa kami menyebrang menuju pelabuhan Lembar. Biaya
penyebrangan adalah sebesar Rp 129.000. Di atas kapal kami menyewa kamar ABK seharga Rp 100.000 yang berisi 3 tempat tidur dan colokan listrik. Kamarnya terletak di dekat dapur ABK dan mushola dan cukup nyaman untuk beristirahat dan mengisi baterai handphone. Merupakan keputusan yang tepat untuk menyewa kamar, karena tidak lama kemudian istri mengalami mabuk laut dan perlu berbaring. Setelah 4 jam berlalu kami berlabuh di Lembar. Motor kemudian saya pacu ke Kota Lombok menuju Red Doorz Hotel Pejanggik yang juga merupakan hotel Kertayoga. Kami berhasil sampai bertepatan dengan turunnya hujan…fiuuh selamat dari ngambeknya istri….hehehe. Untuk makan malam kami memilih memesan lewat aplikasi ojek online karena ingin segera beristirahat.


Hari 3 Lombok – Sumbawa Besar

Di tepi jalan trans Sumbawa
we made it....!!
Setelah sehari sebelumnya melakukan perjalanan cukup panjang, hari ketiga ini kami ingin santai saja. Kami membeli sarapan di pelabuhan Kayangan dan menunggu 1 jam sebelum bisa naik kapal. Biaya yang dikenakan sebesar 54.000. Untuk sampai ke pelabuhan Pototano memerlukan waktu berlayar selama 2 jam. Tidak jauh dari pelabuhan terdapat penunjuk jalan legendaris yang menjadi objek foto favorit para biker. Kami pun menyempatkan diri berfoto di sana. Jalanan di pulau ini hampir semuanya mulus, tidak banyak kendaraan yang melintas, terbuat dari aspal hotmix dan dilengkapi pemandangan indah karena di sepanjang sisi kiri adalah garis pantai. Sesampainya di kota Sumbawa kami segera menuju hotel Pondok Daun. Di sini kami hanya berjalan-jalan sebentar sembari mencari makan karena memang tidak banyak aktraksi wisata di kota ini.


Hari 4 Sumbawa Besar – Bima

Dekatnya jarak yang akan ditempuh hari ini membuat kami sedikit bermalas-malasan, selain karena keadaan kamar yang sangat nyaman dan sarapan enak yang disediakan hotel. Menjelang tengah hari kami baru melakukan perjalanan ke Kota Bima. Di perjalanan kami sempat singgah di warung penjual jagung pulut/jagung ketan rebus siram air garam. Makanan ini yang paling kami inginkan ketika mendengar nama kota Bima. Harganya murah hanya Rp 4.000/buah dan sudah cukup mengenyangkan. Sesaat sebelum masuk pusat kota, banyak dijumpai pedagang buah srikaya dengan ukuran besar. Sayang kami tidak berkesempatan mencicipinya. Setelah 5 jam perjalanan, kami sampai di Kota Bima dan segera menuju hotel Marina untuk berisitirahat dan membersihkan diri, kami lalu makan malam sambil berjalan-jalan di Kota Bima. 
Ini Jagungnyaa..


Kota Bima
Kota Bima tidak banyak berubah sejak kunjungan kami di tahun 2015, hanya saja plang bertuliskan Kota Bima Berteman sudah tidak kami lihat dan ada peningkatan fasilitas umum di sepanjang bibir pantai yang sekarang telah dilengkapi masjid apung. Sekembalinya ke hotel, kami mecari informasi jadwal kapal yang berangkat dari Pelabuhan Sape ke Pelabuhan Labuan Bajo. Pihak hotel memberikan informasi bahwa kapal dari Pelabuhan Sape akan berangkat pada pukul 09.30 dan perjalanan dari hotel ke pelabuhan kurang lebih memakan waktu 1 jam. Sebetulnya ada jadwal keberangkatan sore dari Sape ke Labuan Bajo tetapi kami tidak menanyakan lebih lanjut karena kami tidak menyukai ide berada di laut saat hari sudah gelap.


Hari 5 Bima – Labuan Bajo

Hotel Marlina menyediakan sarapan sejak pukul 06.00 pagi, segera setelah menyelesaikan sarapan dan packing kami segera berangkat ke Pelabuhan Sape. Karena cukup pagi, lalu lintas dipenuhi dengan anak sekolah dan para pekerja yang berpacu untuk segera sampai ke tempat tujuannya. Selepas kota Bima, jalanan agak berkelok-kelok dengan pemandangan perbukitan. Sesampainya di pelabuhan Sape kami sempat kebingungan karena pelabuhan sedang direnovasi dan loket tiket tutup. Ternyata loket tiket hanya dipindahkan sementara. Kami membayar Rp 186.000 dan segera naik ke kapal yang sudah menunggu. Saat memarkirkan motor, kami melihat motor ber-registrasi Rusia. Mereka bahkan membawa ban cadangan yang diikatkan  pada crash bar-nya. 

kamar sewaan
Kamar sewaanTadinya kami ingin menyewa kamar lagi seperti yang kami lakukan saat penyebrangan Bali-Lombok, tetapi kapal ini tidak memiliki kamar untuk disewakan. Pada kelas ekonomi terdapat semacam Bunk Bed dimana kalian bisa menyewa kasur kepada ABK, harganya tidak mahal. Kapal ini juga memiliki ruang VIP dilengkapi AC namun saat kami di sana kebetulan AC sedang bermasalah. Jadilah kami duduk selama 6 jam di ruang tertutup yang gerah walaupun ABK sudah membuka semua jendela. Pada pukul 10.00 akhirnya kapal mulai berlayar. Oh ya, jika kalian berniat untuk makan siang di atas kapal sebaiknya membeli makanan sebelum kapal berangkat. Karena
The real deal
setelah mulai berlayar, makanan yang ada di kantin kapal hanya berupa mie instan dengan harga Rp 20.000/buah. Untungnya kapl dilengkapi dengan televisi berlangganan sehingga rasa bosan tidak terlalu terasa, apalagi saat akan mendekati Labuan Bajo ada penampakann rombongan lumba-lumba. 

Kami tiba di pelabuhan Labuan Bajo pukul sekitar 16.00 karena Alhamdulillah, laut pada ssat itu sangat tenang, padahal beberapa hari sebelumnya, menurut salah satu ABK, ombak sangat besar, kami segera berkeliling mencari penginapan. Akhirnya setelah berkeliling dan bertanya, kami putuskan untuk menginap di Hotel Beta Bajo. Hotel di sekitar pelabuhan umumnya tidak memiliki tempat parkir/langsung berbatasan dengan jalan raya. Turis mancanegara memenuhi kawasan ini. Tidak hanya berwisata, beberapa dari mereka menjalankan usaha kuliner, akomodasi, kursus menyelam hingga penyedia jasa tour.


Hari 6 Labuan Bajo – Ruteng

Durian break...
Setelah selesai sarapan di hotel dan memasang semua tas di motor, saya bergegas memacu motor menuju kota Ruteng. Security hotel sudah memberitahu bahwa jalanan akan berliku dan naik turun. Belum lama berjalan, istri minta berhenti karena ingin mencicipi durian yang memang banyak dijual di warung pinggir jalan. Kami berhenti di warung milik seorang ibu yang menjual durian hasil kebunnya sendiri. Tiga kali membelah durian akhirnya didapat durian yang kualitasnya baik, dua durian sebelumnya tidak matang sempurna dan kami hanya diminta membayar durian yang terakhir seharga Rp 40.000. Rasanya manis dengan daging buah yang tidak terlalu tebal. Cukup membayar rasa penasaran. Selain durian, warga juga menjajakan rambutan, pisang dan alpukat mentega yang sungguh menggoda karena ukurannya yang besar dan dalam bayangan saya pasti daging buahnya tebal & creamy
Yummy....!!

Perjalanan Labuan Bajo – Ruteng kami tempuh dalam 5 jam. Hujan mulai turun saat memasuki kota Ruteng, untungnya penginapan yang kami tuju tidak jauh dari pusat kota. Kami menginap di Hotel Rima, sebuah penginapan yang dibangun dari kayu. Letaknya di pegunungan serta hujan yang sering turun membuat suhu di kota Ruteng sangat dingin. Hal yang kami sadari, tidak ada warung/restoran yang menjajakan makanan khas Ruteng, yang banyak tersedia adalah nasi padang, penyetan dan bakso.


Hari 7 Ruteng – Ende

Gurusina traditional village
Kami berencana ke Ende untuk mengunjungi danau Kelimutu dan rumah pengasingan Bung Karno di Ende. Setelah menghabiskan sarapan yang disediakan, kami segera berangkat. Jalan yang kami lalui masih sama, berliku dan curam. Perlu 9 jam untuk mencapai Ende, sebetulnya tidak memakan waktu selama itu jika saya tidak salah jalan dan menyempatkan berkunjung ke desa adat Gurusina. Tetapi jalan yang salah ini sebetulnya menuju ke Ende juga dengan jarak tempuh yang lebih dekat hanya saja keadaannya rusak dengan batu kerikil yang terlepas dan curam. Di rute ini terdapat
Mount Inerie as the background
beberapa desa adat yang masih dihuni masyarakat asli seperti Gurusina, Bena dan ada juga desa adat tanpa papan nama. Desa adat terletak di pinggir jalan sehingga mudah dijangkau. Bentuk rumah adat di Gurusina tidak seperti rumah adat di Waerebo. Cukup mencatatkan data diri pada buku tamu dan memasukkan uang seikhlasnya pada kotak yang disediaakan kita sudah bisa berkeliling sepuasnya. Kebetulan saat kami berkunjung kami ditemani oleh penjaga desa dan kedua anaknya -Marcel dan Widya- untuk berjalan-jalan. Kami diceritakan mengenai kehidupan dan budaya masyarakat adat setempat, hasil bumi yang mereka miliki serta kendala yang mereka hadapi. 
Gurusina Entrance

Bapak penjaga desa menginginkan pelatihan dan peralatan untuk mengolah hasil bumi menjadi barang dengan nilai ekonomis yang lebih tinggi. Istri bapak penjaga menunjukkan suvenir terbuat dari benang tenun sisa yang ia jual  dimana pembuatannya merupakan hasil binaan dari LSM di Bandung. Keluarga ini sangat terbuka dan ramah terhadap tamu dan tak sungkan menceritakan perjalanan hidupnya kepada kami. Kehangatan keluarga ini dan lucunya tingkah laku kedua anak mereka sungguh mengobati rasa lelah. 

Ketika sudah akan mencapai Ende, kami kehujanan dan harus berteduh di warung karena istri mogok naik motor dan tidak mau memakai jas hujan. Di warung kami bertemu dengan seorang guru dan kamipun mengobrol bersamanya dengan pemilik warung. Ternyata keduanya pernah mengunjungi kota Jogja. Orang Flores secara fisik memang terlihat agak kurang bersahabat, tetapi mereka sangat ramah dan sangat menyenangkan sebagai teman bicara. Mereka memberitahu jika kami sebentar lagi akan mencapai kota Ende dan menyarankan kami untuk mengunjungi Kelimutu di pagi hari karena semakin siang maka semakin besar kemungkinan kabut menyelimuti danau Kelimutu. Setelah hujan reda kami berpamitan dan benar saja 1 jam kemudian kami sampai di Ende. Di Ende kami menginap di Dasi Guesthouse yang terletak di depan RRI.


Hari 8 Ende 

Teringat saran pak Guru yang kami temui kemarin, kami segera menuju danau Kelimutu setelah selesai sarapan di penginapan. Kami sampai di danau Kelimutu pukul 09.00. Kami menyempatkan diri berfoto pada gerbang selamat datang lalu membayar tiket masuk di loket. Dari loket, masih perlu berkendara selama 15 menit untuk mencapai tempat parkir. Pagi itu tidak banyak kendaraan yang terpakir. Bagus lah……semakin tidak ramai maka semakin menyenangkan. Saat berjalan ke arah danau Kelimutu kami berjumpa dengan beberapa ekor monyet liar. Mereka akan cenderung menjauhi turis dan banyak himbauan untuk tidak memberi mereka makanan untuk kepentingan pelestarian. 

Hari itu ketiga kawah danau Kelimutu semua berwarna biru kehijauan. Ibu penjual makanan bercerita jika warna merah pada danau tidak sering terjadi dan tidak mereka harapkan. Karena warna merah pada kawah biasanya diikuti dengan musim kering yang panjang dan mengakibatkan gagal panen. Ibu-ibu penjual ini juga meminjamkan kain tenun untuk kita berfoto. Jika ingin membeli, harganya pun masih lebih murah jika dibandingkan dengan harga kain tenun di toko oleh-oleh Labuan Bajo. Setelah puas berfoto dan melihat keindahan danau Kelimutu, kami pun bergegas turun karena kabut sudah mulai turun dan langit juga mendung. Oh ya kamar mandi di sini sangat terjaga kebersihannya, tapi hati-hati airnya sedingin es…..hehehe. GPS saya sempat tertinggal di atas motor, namun pedagang di sekitar tempat parkir menyimpannya karena takut terkena hujan dan mengembalikannya begitu melihat saya. Jika ini terjadi di Jawa, mungkin GPS saya tidak akan saya temukan lagi.  
Rumah Pengasingan Bung Karno

Saat perjalanan kembali ke kota Ende, kabut tebal dan langit mendung menemani. Ketika hampir mencapai kota malah kami kehujanan. Setiap kami berteduh hujan mereda, tetapi hujan menjadi deras pada jalanan yang tidak ada warung untuk kami tumpangi. Akhirnya istri mau juga memakai jas hujan….wkwkwkwk. Setelah tengah hari kami tiba di rumah pengasingan Bung Karno. Rumah itu masih asri karena baru dipugar oleh salah satu Bank pemerintah. Setelah puas berkeliling kota Ende kamipun kembali ke penginapan.


Hari 9 Ende – Ruteng

Dimulailah perjalanan kami pulang ke barat. Kami menginap di hotel yang sama di Ruteng. Tidak banyak yang terjadi selain telepon dari kantor yang mengabarkan saya harus mengikuti pelatihan di akhir minggu, segera saya mendiskusikan hal ini dengan istri dan diputuskan untuk kembali ke Jakarta menggunakan pesawat terbang. Kami langsung memesan tiket dan mencari ekspedisi untuk mengirimkan motor dari Ruteng dan membuat janji dengan ekspedisi untuk keeesokan hari.


Hari 10 Ruteng – Labuan Bajo

Sebelum berangkat ke Labuan Bajo, saya mengunjungi ekspedisi dan memutuskan tidak jadi mengirimkan motor dari Ruteng karena mereka tidak bisa memberikan nomor resi yang bisa dilacak. Kami mencapai Labuan Bajo sebelum ashar dan sempat menyapa kembali bapak pemilik warung (baca hari ke-7). Karena Labuan Bajo adalah tujuan utama liburan kali ini maka kami mencari penginapan yang nyaman dan penyedia paket perjalanan. Kami menginap di Komodo Lodge yang terletak di dekat pusat kuliner kampung ujung. Jalanannya lebih sepi dan dilengkapi dengan tempat parkir yang luas. Sempat berkeliling mencari penyedia tour tapi belum ada yang cocok karena istri menginginkan pengalaman live on board yang ternyata hanya tersedia saat akhir pekan.


Hari 11 – 14 Labuan Bajo

Hari kesebelas hanya kami gunakan untuk berkeliling Labuan Bajo, mencari ekspedisi untuk mengirim motor ke Jakarta dan membeli oleh-oleh. Kami mengunjungi pantai Waecicu dan melihat bukit cinta dari kejauhan. Kami juga mencoba makan di restoran Italia Mediteraneo yang memang enak rasanya. Di hari keduabelas pukul 06.00 kami mulai full day trip mengunjungi pulau Padar, pulau Komodo, Pink Beach dan Manta point. Kami bertemu 5 komodo di sekitar tempat minum mereka, berfoto dengan latar belakang 3 pantai di pulau Padar, melihat ikan Manta, ubur-ubur dan Lumba-Lumba. Kami bahkan memiliki video ikan manta. Sayang snorkeling di Pink Beach kurang mengasyikkan karena selain dibatasi waktu (20 menit saja) juga karena arus yang kuat. Istri saya bahkan harus dibantu crew untuk kembali ke kapal. 

Ikan dan koral di sana tidak terlalu banyak dan tidak terlalu bagus. Segera setelah semua orang kembali ke kapal, kapten kapal segera memacu kapalnya kembali ke Labuan Bajo namun sebelumnya kami dibawa mampir ke Manta Point. Pemandangan disini sangat bagus, puluhan ikan Manta berenang di sekitar kapal. Beberapa wisatawan memutuskan berenang untuk mendekati ikan Manta sedagkan kami memutuskan melihat saja dari atas kapal sambil mencoba mengambil vidio bawah air. Namun tak lama mereka yang berenang bergegas naik ke kapal sambil berteriak kesakitan karena mereka berenang melewati gerombolan ubur-ubur. 

Setelah puas melihat, kapten memacu kapal kembali ke pelabuhan Labuan Bajo. Dalam perjalanan kembali kami beruntung karena melewati gerombolan lumba-lumba. Begitu sampai di pelabuhan Labuan Bajo kami segera berganti baju dan kembali mencari ekspedisi di pelabuhan serta mendaftarkan diri untuk paket snorkeling full day. Ternyata ekspedisi di pelabuhan menghitung biaya ekspedisi per kontainer, sehingga terlalu mahal bagi saya.

Dermaga Waecicu
Untuk paket snorkeling ini kami menyewa kapal hanya untuk kami berdua dengan harga yang tidak terlalu mahal. Kami sudah membeli masker snorkeling berlensa minus, sayang kan kalau tidak digunakan maksimal. Paket ini selain mencakup harga kapal, juga termasuk penyewaan alat snorkling, air mineral dan makan siang. Dimulai pukul 08.00 kami dibawa mengunjungi pulau Kelor, pulau Kanawa dan pulau Bidadari. Ikan dan terumbu karang paling banyak ada di pulau Kanawa. Untuk bisa berenang di sini kami harus membayar tiket sebesar Rp 50.000 per kapal. Setelah membayar kami  bebas berenang dan bermain di pantainya tanpa batasan waktu. 

Ikan disini sudah terbiasa diberi makan roti oleh wisatawan sehingga begitu kami mulai masuk ke air ikan-ikan akan mengerubuti. Di pulau ini tersedia restoran untuk yang ingin mencoba seafood hasil laut sekitar.  Di pantai pulau Bidadari juga terdapat pecahan koral merah yang membuat pasirnya berwarna pink seperti di pantai Pink Beach. Setelah lelah berenang, kami meminta kapten kapal kembali ke Labuan Bajo dan tiba di pelabuhan pukul 15.00. 

Setelah membersihan diri dan berganti baju kami segera mengunjungi kantor JNE untuk menanyakan detail pengiriman motor. Keesokan harinya setelah sarapan dan berkemas, saya bergegas ke kantor JNE bersama dengan istri yang menaiki motor sewaan dari hotel. Selain motor, kami juga mengirimkan sepatu motor, helm, sarung tangan, jas hujan dan alat motor lainnya. Biaya pengiriman motor dari Labuan Bajo ke Jakarta adalah sebesar Rp 3.835.000 sudah termasuk asuransi dengan estimasi waktu yang tidak diketahui dikarenakan motor nantinya dari Labuan Bajo akan dikirim ke Kupang/Bali tergantung truk yang paling cepat tersedia. Petugas JNE hanya mengatakan jika motor diestimasi akan sampai di Jakarta lebih dari seminggu. Sebelum membayar, saya dan petugas
The View
JNE memeriksa kelengkapan motor bersama-sama. Saya berdoa motor akan selamat sampai di Jakarta tanpa lecet sedikitpun….fingers crossed. Selesai dengan administrasi pengiriman motor kami segera kembali ke hotel dan meminta fasilitas pengantaran ke Bandara. Akhirnya setelah petualangan selama 14 hari, kami mengakhirinya dengan menumpang pesawat ke Jakarta pada pukul 14.00. Semoga saya bisa kembali mengunjungi pulau Flores yang indah ini.
komodo Dragon




Tuesday, March 13, 2018

ANTARA KAMI DAN KELIMUTU Part 1


Pada tahun 2015 saya dan istri sudah pernah melakukan trip dari Yogyakarta ke Bima menggunakan mobil. Awalnya kami berencana mengunjungi Labuan Bajo, namun karena sesuatu hal perjalanan harus diakhiri di Bima. Tidak ingin dihantui rasa penasaran pada pulau Flores, akhir tahun 2017 kami mulai merencakanan trip ke pulau Flores. Untuk perjalanan ini saya mengendarai Kawasaki Versys 250. Pada pertengahan bulan Februari lalu kami memulai trip ini dan kembali ke Jakarta pada akhir bulan. Pergi touring menggunakan motor pada saat musim hujan? Ya, memang terdengar seperti pemilihan waktu yang kurang tepat. Tetapi kami cukup beruntung hujan hanya turun 2 kali. Melegakan, karena yang paling tidak disukai istri adalah kehujanan saat naik motor dan hal terakhir yang saya inginkan adalah bepergian dengan partner touring yang sedang bad mood. Hahahaha………singkat cerita perjalanan kami berjalanan lancar dan menyenangkan walaupun kami harus mempercepat kepulangan (terulang kembali) karena alasan pekerjaan. Total perjalanan yang kami tempuh adalah sekitar 1707 km (Versi Google Map). Kenapa saya mengambil dari Google Map? Karena sampai saat tulisan ini dibuat, motor saya belum sampai juga ke tangan saya setelah saya kirim dari Labuan Bajo menggunakan jasa pengiriman yang cukup ternama. Detail perjalanan kami ceritakan dalam beberapa part, so stay tuned........

Tuesday, November 29, 2016

Kawasaki D-Tracker

Awalnya saya tidak begitu tertarik dengan sepeda motor ini karena memang kapasitas mesin yang terbilang kecil, hanya 150cc (sebelumnya saya menggunakan Bajaj Pulsar 220) dan karena badan yang cukup ramping, berbanding terbalik dengan badan saya., terlebih lagi, harganya yang cukup fantastis, jika dibandingkan dengan harga baru Bajaj Pulsar saya dulu. 

Setelah sekian lama mencari-cari sepeda motor pengganti si Benji (Bajaj Pulsar saya dulu), browsing sana-sini, mampir ke dealer berbagai merek, saya mulai melirik motor ini karena ada salah satu informasi yang saya dapatkan yang menyatakan bahwa D-Tracker versi tahun 2016 akan mempunyai dimensi yang jauh lebih besar dibandingkan dengan D-Tracker keluaran tahun-tahun sebelumnya. lingkar roda  juga bertambah besar dari ukuran 14" menjadi 17". Mesin juga mengalami sedikit, ya sedikiit perubahan dari versi lama untuk meningkatkan sedikit tenaga yang memang hanya sedikit. Hal lain yang membuat saya semakin ingin memiliki adalah karena motor ini menggunakan basis yang sama dengan  KLX yang membuat motor ini dapat digunakan di semua medan ditambah suspensi depan yang sudah Upside Down. Saya kembali teringat perjalanan saya di Gunung Salak dulu, dengan medan yang cukup parah dan membayangkan bagaimana jika saya kembali kesana dengan menggunakan motor ini. Hm...suatu hari saya akan kembali....


Satu yang menjadi kekurangan dari motor ini menurut saya, meskipun sudah bertambah panjang, namun karena secara alami, motor ini merupakan motor untuk 1 penumpang saja (tanpa pembonceng), jok terlalu pendek sehingga ketika istri saya membonceng akan terasa agak lebih sempit dibandingkan dengan si Benji, jok yang terlalu pendek ini juga semakin terasa pendek setelah saya memasang box belakang Shad 33 diatas braket custom. namuuuunnn, seperti pepatah mengatakan, nobody`s perfect, begitu pula dengan sepeda motor, pasti ada kekurangan dan kelebihannya, ya kan? ya kan? Buktinya, telah banyak tempat yang saya dan istri saya telah datangi dengan si Suki (nama D-Tracker 150 saya). Saya sementara ini berdomisili di Yogyakarta, dan bersama si Suki, saya dan istri sudah sampai ke Bandung+Jakarta, Bali via Jalur selatan Jatim, Tawangmangu dan masih banyak tempat lainnya.


Tidak banyak ubahan yang telah saya lakukan, terutama di bagian mesin, semuanya masih standard, hanya beberapa aksesoris tambahan yang berguna saja yang sudah terpasang. Hal pertama yang saya lakukan setelah motor tiba di tangan adalah memasang braket custom untuk dudukan box belakang dan box samping/panniers. Untuk pemakaian harian dalam kota, box ini selalu terpasang dengan cantiknya di belakang si Suki. Karena motor jenis ini tidak mempunyai bagasi, mempunyai ruang penyimpanan tahan cuaca yang dapat dikunci adalah hal yang penting karena dapat untuk menyimpan jas hujan, sarung tangan, masker dkk. Untuk perjalanan jauh, yang saya baru tahu belakangan, jika mengganti box Shad 33 dengan duffle bag anti air dari 7Gear akan jauh lebih nayaman karena selain daya tampung yang lebih besar dibandingkan dengan box saya, tas ini membuat pembonceng dapat duduk agak lebih lega karena tas dapat ditempatkan sedikit ke belakang. Untuk dudukan box samping sementara ini hanya saya gunakan untuk meletakkan side bag merek Rangaroo sebagai ruang penyimpanan tambahan. Selain itu saya juga memiliki tankbag seri Mondo dari 7Gear.


Ubahan lainnya yang saya lakukan adalah menambah busa pada jok karena jok bawaan terasa sangat tipis dan cepat membuat bokong panas. Menambah busa memang sedikit mengurangi rasa panas dan pegal, namun saya rasa masih kurang nyaman, terutama karena jok yang tidak begitu lebar. Mungkin nanti, sebelum saya melakukan perjalanan jauh lainnya saya akan mencoba mencari spesialis jok motor untuk memperlebar penampang jok agar lebih nyaman.

Kawasaki D-Tracker 150 versi baru ini dijual dengan 2 varian, varian standar dan varian Special Edition (SE). tidak ada perbedaan spesifikasi diantara kedua jenis ini, yang membedakan hanyalah aksesoris yang menempel, seperti adanya handguard, engine guard, frame guard dan setang model fatbar pada varian SE. Saya sebenarnya ingin membeli varian SE berwarna kuning hitam,namun, karena waktu inden yang cukup lama, plus motor lama sudah laku, saya membeli varian biasa dengan warna putih oranye. Karena tetap ingin memiliki varian SE, lalu saya membeli sendiri semua aksesoris varian SE dan memasangnya pada si Suki, jadilah SE versi KW.

Untuk perjalanan jauh, terutama jika ingin melewati rute baru yang belum pernah dilewati, saya membeli GPS waterproof sehingga untuk memastikan daya listrik GPS selalu penuh, saya memasang motorcycle USB charger. Selain untuk GPS, charger ini juga bisa digunakan untuk mengisi daya HP. Tahun 2012 saya membeli GPS waterproof 3,5" dari sebuah toko online, GPS ini tidak bermerek dan menggunakan peta gratis dari www.navigasi.net. Saya cukup nyaman menggunakan GPS ini pada awalnya, dan hampir tidak ada masalah sama sekali, namun karena sering memutakhirkan peta dan ukuran file peta versi baru menjadi semakin besar, GPS semakin lama semakin lemot atau bahkan gagal mencari rute sehingga saya tidak dapat menggunakan peta versi terbaru. Karena alasan tersebut, saya mencoba mencari informasi tentang GPS waterproof yang murah dan reliable. Pilihan saya akhirnya jatuh kepada Garmin Nuvi 200 yang memang dapat digunakan untuk mobil dan sepeda motor. Garmin sebenarnya juga menyediakan beberapa GPS handheld basic dengan harga yang lumayan terjangkau seperti etrex 20 maupun etrex 30, namun ukuran layarnya terlalu kecil.

Terakhir, untuk menghalau angin dan elemen-elemen lain saya juga memasang windshield dari Geba yang memang didesain khusus untuk Kawasaki KLX/D-Tracker. Cukup berkomunikasi lewat whatsapp, pilih jenis windshield yang akan dibeli, transfer uangnya dan barang siap dikirim sampai ke rumah. Cara memasangnya juga cukup mudah dan dapat dilakukan sendiri, walau memakan waktu yang cukup lama bagi saya untuk memasangnya sendiri.  

nb: Setelah handguard terpasang saya belum sempat foto lagi...

Monday, November 28, 2016

Ke Bima..day 6

Diorama di Jatim Park 1
Hari ke-6...saatnya mencoba pemanas air yang hari kemarin baru saja kami beli. Tidak tanggung-tanggung, pemanas air yang berkapasitas tidak sampai satu liter tersebut akan kami gunakan untuk memasak air untuk mandi. Percobaan pertama berhasil, air berhasil menjadi panas dan saya mempersilakan istri saya untuk mandi terlebih dahulu dan saya akan kembali memasak air untuk saya sendiri. Di kamar hotel tersebut, tidak tersedia banyak outlet listrik, sehingga kami agak kesulitan sewaktu memasak air tersebut dan karena itu pula kami harus meletakkan pemanas air tersebut di atas kasur. Sebelum istri saya mandi, saya sempat mengambil air dari kamar mandi untuk dimasak, sambil saya membayangkan enaknya mandi menggunakan air hangat di pagi yang cukup sejuk itu. Sambil menunggu air masak, saya membuka-buka hp dan sebentar-sebentar melirik ke arah pemanas air tersebut. Setelah istri saya hampir selesai mandi dan saya telah selesai membuka-buka hp, saya kembali melirik ke arah pemanas air tadi dan saya melihat ada sesuatu yang aneh dari pemanas air itu. Aneh karena airnya tidak mengeluarkan gelembung-gelembung kecil seperti tadi dan saya dekatkan tangan ke atas permukaan air tersebut dan ternyata airnya masih saja dingin. Tidak mau ambil resiko tersengat aliran listrik, saya mencabut pemanas air dari stop kontaknya dan memasukkan jari ke dalam air, dingin, itu yang saya rasakan. Saya coba membetulkan sambungan kabel yang menancap di alat itu dan memindah colokan listriknya ke outlet yang lain, namun hasilnya sama saja, air tetap dingin. Saya belum mau mengakui jika alat yang baru terpakai sekali itu rusak, sehingga saya tetap mencoba memanaskan air sementara saya mandi menggunakan air dingin. Setelah mandi saya kembali mengecek airnya dan tetap saja..dingin.. Ya sudah, akhirnya saya mengalah dan mengakui bahwa alat itu rusak, busted, tidak bisa dipakai dan menerima kenyataan bahwa kami akan tetap mandi air dingin pada mandi-mandi berikutnya di hotel ini. Pemanas air itu, walaupun sudah rusak, anehnya tidak kami buang, dan masih tersimpan rapi di dalam box plastik yang kamu bawa selama perjalanan.

Setelah selesai urusan permandian, saatnya menghibur diri dengan mencari sarapan yang agak berbau ayam. Ya, pilihannya tentu saja jatuh kepada restoran ayam goreng cepat saji yang paling jago. Yup, tidak jauh dari hotel memang terdapat restoran itu dan kami hanya perlu berjalan kaki saja sebentar. Pulang dari makan ayam goreng, kami sempat mencari toko alat listrik untuk membeli colokan listrik tambahan atau rol kabel untuk tambahan colokan di kamar hotel yang hanya sedikit. untuk menghemat uang jajan,kami memilih rol kabel yang termurah. Kami membutuhkan banyak colokan listrik karena memang gadget yang harus kami charge cukup banyak. Pada perjalanan ini kami membawa:

1. HP masing-masing 1 buah = 2 buah
2. HP sebagai secondary GPS = 1 buah
3. Kamera digital = 1 buah
4. Action Cam = 1 buah
5. GPS = 1 buah (memang dapat diisi daya di mobil namun sering saya lepas untuk menentukan rute     dan membuat waypoint)
6. Tablet (bukan obat) untuk browsing tujuan dan memesan penginapan = 1 buah

Kami sebenarnya juga telah melengkapi si Blue dengan power inverter yang dapat mengubah listrik dari lighter mobil menjadi listrik AC 220V, namun pada prakteknya di perjalanan, jarang sekali kami mengisi daya semua gadget kami di mobil, paling hanya HP/tablet saja.
Lion and lioness of Jatim Park I
Hari itu tujuan kami adalah kembali ke Batu untuk mengunjungi Museum Angkut dan Jatim Park 1, kami berdua sama-sama belum pernah mengunjunginya, jadi alasan kami kesana adalah karena rasa penasaran. Setelah selesai membeli rol kabel, kami bersiap-siap dan segera melaju kembali ke Batu setelah acara halal bihalal di kantor Bupati (kalau tidak salah ingat) di depan hotel selesai karena selama acara itu berlangsung, jalanan di depan hotel ditutup. Seteleh GPS menunjukan bahwa Museum Angkut berada tidak jauh lagi, kami terkejut karena antrian mobil yang akan menuju ke Museum Angkut sangatlah ramai, hingga mengular naga panjangnya bukan kepalang. Namun, karena tekad sudah bulat, kamipun ikut mengantri dan bersabar karena memang tempatnya masih belum buka. Setelah mengantri cukup lama, kami entah bagaimana mendapat parkir bukan di halaman parkir resmi Museum Angkut, melainkan di semacam tanah lapang di sebelah komplek museum. Ya, tidak apa-apalah, walau saya tahu ongkos parkirnya pasti jauuuuh lebih mahal.

Setelah turun dari mobil, kami ikut mengantri karcis dan ternyata antrian manusia yang akan membeli
karcis juga sangat panjang, sangaaaatttt panjaaaang. Namun sekali lagi, karena tekad sudah bulat ya kami tetap ikut mengantri. Akhirnya tiba giliran kami sampai di depan loket dan berhasil membeli tiket. Kami menuju ke pintu masuk dan tiba di ruangan yang sangat besar yang berisikan koleksi sepeda motor dan mobil kuno yang cukup banyak. Kami pikir, inilah ruang pamer utama museum ini dan hanya sebentar saja pasti akan selesai berkeliling. Namun dugaan kami salah besar karena kompleknya sangat besar dan terbagi menjadi berbagai macam tema seperti Hollywood, untuk kendaraan-kendaraan dari Amerika dan negara Inggris, untuk kendaraan-kendaraan yang berasal dari Inggris dan kami memerlukan waktu hampir tiga jam untuk menyelesaikannya. 

Replika karapan sapi kalo gak salah...
Setelah puas (dan lelah) berkeliling di Museum Angkut, kami lalu menuju ke semacam pameran kesenian atau kebudayaan yang berada di komplek museum. Pameran tersebut berisikan barang-barang yang berkaitan dengan kebudayaan Indonesia seperti topeng dan senjata-senjata kuno, setelah itu kami mampir ke semacam arena kuliner bertema Venice yang masih juga berada di lingkungan museum, kami sempat makan sebangsa siomay atau batagor untuk mengganjal perut dan menyudahi kunjungan ke Museum Angkut kali itu. Untuk kunjungan kami ke Museum Angkut ini saya tidak bisa menjelaskan terlalu detail karena selain kejadiannya sudah lebih dari setahun yang lalu, file-file foto khusus Museum Angkut ini hilang, raib, gone with wind, musnah entah kemana, padahal foto-foto perjalanan sebelumnya dan setelah Museum Angkut ini ada. Bahkan foto-foto di Jatim Park I, yang masih satu hari dengan Museum Angkut masih ada, aneh.

Hari sudah agak sore ketika kami sampai di Jatim Park 1, bahkan kami termasuk rombongan terakhir yang masuk ke Jatim Park 1. Isi dari Jatim Park 1 ini mirip TMII menurut saya, kebanyakan berisikan sejarah dan kebudayaan Indonesia. Permainan anak juga tersedia disini, namun jumlahnya sedikit, inti dari Jatim Park I ini mungkin untuk menambah wawasan mengenai Indonesia, jadi yang diutamakan adalah isinya. Kalau seperti kata orang akuntansi itu substance over form, lebih mementingkan isi daripada bentuk. Tidak sempat banyak berhenti dan mengambil foto karena memang tempatnya sudah akan tutup, kami melaju menuju pintu keluar dan langsung kembali menuju Malang. Sebelumnya untuk mengganjal perut (lagi) dan sekalian makan malam, kami makan di Hot CMM sambil menunggu kepadatan kendaraan yang turun dari Batu ke Malang berkurang. Setelah selesai makan kami kembali ke hotel, untuk beristirahat, sepertinya tidak mandi karena udara dingin dan thanks to broken water boiler, kemudian packing karena besok, sanak saudara dari Istri yang akan menuju ke Jember akan tiba di Malang untuk menginap semalam dan kami harus check out dari hotel Santosa..ZzZzZz
Peta Jatim Park I